Tuesday, December 5, 2006

Kompas Tuan AruSama

Berada di utara 23
2 langkah ke timur laut 25
atau 3 langkah ke tenggara 20
di temaram senja

....................

bermacam manusia berjalan silih berganti
ada manusia berjalan miring ke depan 45 derajat
ada manusia berjalan tersungkur
ada pula manusia siap lepas landas yang tak tumbuh sayap

mereka semua bermain hidup
berlangkah kisah
bermandi jerat
bernafas bangkai

matanya sayu
mulutnya ternganga bau
peluhnya mengalir kering
tali kekangnya tertambat pada sebatang pohon

melepas lelah sejenak...

mereka adalah para atlit
yang hendak mencapai garis finish di utara
dengan derap kuda perang
lalu menghilang dalam kabut yang pucat

begitu cepat...

sejenak berhenti di sebuah telaga
kenyangkan dahaga seteguk dua teguk tiga teguk
lalu melesat
tampaknya ke utara lagi

begitu cepat...

kembali menghilang dalam kabut yang pucat...

manusia memang bertumpuk-tumpuk
baik waktu bangun
atau waktu tidur
mereka bertumpuk-tumpuk

karena itu kisah mereka selalu berujung sama
bergerak dengan tatih yang statis
berakhirpun begitu saja
yakni di utara


lalu yang manakah dirimu ?
apakah kau yang berjalan miring ke depan 45 derajat?
apakah kau yang berjalan tersungkur?
ataukah kau yang berjalan siap lepas landas?


mungkin kau yang berhenti...

Friday, December 1, 2006

LidaHati

itu lidah atau hati?
atau hati tanpa lidah?
atau sesungguhnya lidah tapi tak berhati?

pastilah itu lidahmu saja...

iya, lidahmu...

bukan? keduanya katamu?...

ah pastilah kau berdusta...

kau tidak bisa berkata seperti itu, sayang

kenapa katamu?
sebab lidah bisa muntahkan ambigu tersamar yang abstrak
ketika hatimu sedang berceloteh yang lain

hihi...kamu lucu

mereka berdua seperti kita sewaktu kecil dulu ya
seringkali bepergian bersama
bermain petak umpet
mengubur harta karun
terkadang saling mencela satu sama lain


bagaimana mungkin kini kau mengatakan padaku tentang keduanya?

ibarat manusia
keduanya tak mesti sejalan...
layaknya harmoni Franky & Jane

karena mereka juga hidup
bernafas...
berjalan...
juga makan dan minum...

jadi kutanya sekali lagi...

itu lidah atau hati?

lho...lho...

tidak perlu menangis, sayang
kau tidak perlu malu
semuanya telah jelas kini
dan kau tidak sendiri
semua pun begitu
aku pun begitu

kenyataan itu semu, sayang
sedang kesemuan itulah yang nyata

kalau tidak buat apa aku menulis sampah ini?
sampah yang membuatku mual
mataku ku pun berkunang
ingin muntah rasanya...

tapi bagaimana lagi

hatiku pun sedang ingin berceloteh
bukan lidahku