Ada seekor laba-laba
yang membangun rumahnya dengan benang yang rapuh
yang dengan sungguh-sungguh merajut
perlahan dan hati-hati dengan riang gembira
sederhana namun nyaman
Semua yang melihatnya tahu itu adalah sebuah rumah
yang di tinggali si laba-laba
namun tak banyak yang mau tahu
usaha si laba-laba ketika membangun rumahnya
tak ada yang peduli dengan cetak biru rumahnya
Seorang manusia dengan angkuh menghancurkannya
karena di anggap mengotori rumahnya yang bersih
dan mewah
laba-laba yang dengan sungguh-sungguh membangun rumahnya marah
ia merasa di lecehkan
Laba-laba tidak memerlukan seekor laba-laba arsitek untuk merancang rumahnya
lain halnya dengan manusia
laba-laba terlahir menjadi seekor arsitek
laba-laba memiliki sebuah maha karya yang luar biasa
manusia yang rendah tidak mampu menyamai bahkan melebihi karya seekor laba-laba
Manusia rendah hanya melihatnya dengan sebelah matanya yang picek
yang di lihatnya hanyalah sebuah sarang laba-laba biasa yang kotor
yang tidak membuatnya takjub
ia berpikir si laba-laba tidak kreatif
tidak sebanding dengannya yang di rasanya luar biasa dan berbeda
Lalu manusia bertanya kepada laba-laba
"mengapa kau tidak pernah membuat sebuah rumah yang berbeda? rumahmu telalu biasa!"
Laba-laba menjawab
"Semua orang tahu dan mengerti seperti apa tempat tinggal kami dengan sekali lihat, dan tahu makhluk macam apa yang tinggal di tempat tersebut. Engkau membuat rumah yang mewah dan bergaya macam-macam, namun orang tidak pernah tahu makhluk macam apa yang tinggal di dalam rumah tersebut"
manusia bertanya lagi kepada laba-laba
"Lalu apakah kau tidak malu dengan rumahmu yang terlalu biasa itu?"
laba-laba menjawab
"Aku tidak malu, karena aku membangun semua ini dengan keringatku sendiri, dengan pemikiranku sendiri, kukorbankan seluruh jiwa dan ragaku untuk membuatnya. Aku merasa nyaman dengannya. Ini karyaku sendiri, kau tidak berhak menghinanya karena kau sendiri manusia yang berkarya. Entitasku dan entitasmu berbeda. Sebaiknya kau perbaiki matamu yang tidak biasa melihat yang biasa!".
Tuesday, January 23, 2007
Friday, January 19, 2007
Ronda Malam (Bagian Siji)
"Han, han! tangi han!"
Handoko seng turu pules ujuk-ujuk di tangekke karo koncone neng sebelahe. "Opo, No? ".
"Lah! piye to kowe iki? jaremu mau arepe ndelok Mbok Dar adus! sido opo ora?".
Handoko molet, nggosok-nggosok matane. Meneng dilut, tatapane nerawang. Marno, neng sebelahe nyadarke Handoko meneh. "Han! sido ora?", Jarene Marno setengah mbengok setengah bisik-bisik.
"Jam piro saiki no?".
"Jam siji, Han! koyoke wong-wong wes turu kabeh!...aman le!".
Sek di liputi rasa ngantuk, awake Handoko wes arepe nggeblak neng kasur meneh, tapi Marno pisan engkas nangekke Handoko, "Hoi, Han! Ayo!".
"Bapakmu karo ibumu wes turu?".
"Wes lah, Han! Kabeh wes turu! Ayo cepet neng njeding, biasane jam semene Mbok Dar adus!".
Karo molet pisan engkas, Handoko ngadek. "Yoh!".
Bar kuwi, bocah loro iku mau metu soko kamare Marno alon-alon. Se iso mungkin bocah loro kuwi lek ngelangkah ora meninggalkan bunyi. Ruangan gelap, lampu-lampu wes dipateni. Tapi Marno koyok wes apal ngono, de'e iso ndelok neng kegelapan.
"No...cen e mbok dar wes pirang taun kerjo neng omahmu? aku gong tau ndelok wajahe".
Marno nyengir, "Sek tas wae...paling rong minggu lalu".
"Ayu ora?".
Marno mandek dilut, ndelok Handoko, "Yo bagiku seh ayu...nggae 'adik' ku standing wae,...nge tril koyok motor ngono".
Handoko sek penasaran, "Umure piro to No?"
"37 taun, wes mantaplah pokoke".
"Kowe mbendino koyok ngene iki No?".
"Yo ora lah...kadang aku langsung ngintip neng kamare".
Handoko cekikikan karo geleng-geleng, "Gendeng men to we, No?".
Bocah loro kuwi luwih suwi nyedeki target. Krungu suara wong adus soko njeding. Marno wes keringetan, Handoko tolah toleh kiri kanan.
Marno ngintip Mbok Dar soko lobang neng pintu kunci njeding seng wes rusak. Mbok Dar isih
adus. Indah bodine luar biasa. Marno koyok kesetrum listrik.
"Piye No? Mantep?", Handoko yo penasaran.
Marno meneng wae, koyoke menghayati. wes ora sadar meneh. De'e mek ngeleg idu.
Handoko seng turu pules ujuk-ujuk di tangekke karo koncone neng sebelahe. "Opo, No? ".
"Lah! piye to kowe iki? jaremu mau arepe ndelok Mbok Dar adus! sido opo ora?".
Handoko molet, nggosok-nggosok matane. Meneng dilut, tatapane nerawang. Marno, neng sebelahe nyadarke Handoko meneh. "Han! sido ora?", Jarene Marno setengah mbengok setengah bisik-bisik.
"Jam piro saiki no?".
"Jam siji, Han! koyoke wong-wong wes turu kabeh!...aman le!".
Sek di liputi rasa ngantuk, awake Handoko wes arepe nggeblak neng kasur meneh, tapi Marno pisan engkas nangekke Handoko, "Hoi, Han! Ayo!".
"Bapakmu karo ibumu wes turu?".
"Wes lah, Han! Kabeh wes turu! Ayo cepet neng njeding, biasane jam semene Mbok Dar adus!".
Karo molet pisan engkas, Handoko ngadek. "Yoh!".
Bar kuwi, bocah loro iku mau metu soko kamare Marno alon-alon. Se iso mungkin bocah loro kuwi lek ngelangkah ora meninggalkan bunyi. Ruangan gelap, lampu-lampu wes dipateni. Tapi Marno koyok wes apal ngono, de'e iso ndelok neng kegelapan.
"No...cen e mbok dar wes pirang taun kerjo neng omahmu? aku gong tau ndelok wajahe".
Marno nyengir, "Sek tas wae...paling rong minggu lalu".
"Ayu ora?".
Marno mandek dilut, ndelok Handoko, "Yo bagiku seh ayu...nggae 'adik' ku standing wae,...nge tril koyok motor ngono".
Handoko sek penasaran, "Umure piro to No?"
"37 taun, wes mantaplah pokoke".
"Kowe mbendino koyok ngene iki No?".
"Yo ora lah...kadang aku langsung ngintip neng kamare".
Handoko cekikikan karo geleng-geleng, "Gendeng men to we, No?".
Bocah loro kuwi luwih suwi nyedeki target. Krungu suara wong adus soko njeding. Marno wes keringetan, Handoko tolah toleh kiri kanan.
Marno ngintip Mbok Dar soko lobang neng pintu kunci njeding seng wes rusak. Mbok Dar isih
adus. Indah bodine luar biasa. Marno koyok kesetrum listrik.
"Piye No? Mantep?", Handoko yo penasaran.
Marno meneng wae, koyoke menghayati. wes ora sadar meneh. De'e mek ngeleg idu.
Hormat Grak!
Senin pagi di bawah langit mendung
tiang bendera tak berbendera tegak berdiri menantang
angin bertiup sedikit kencang
tetesan-tetesan air berselang sepuluh detik datang dari langit
Lonceng sekolah di dentangkan
para murid berhamburan keluar
dengan kasogi hitam dan kaos kaki putih
kaki-kaki mungil tak berdosa bergerak tak sama
Halaman sekolah yang belum di padatkan
injak tanah, lumpur pun muncrat
sedikit becek hari ini
karena hujan di Minggu sore
Murid-murid berbaris rapi
dengan seragam yang sama
dan topi sekolah yang merah
persis prajurit yang siap di terjunkan ke medan perang
Murid-murid berbaris rapi
dengan seragam yang sama
dan topi sekolah yang merah
menatap kosong ke arah tiang bendera yang tak berbendera
tiang bendera tak berbendera tegak berdiri menantang
angin bertiup sedikit kencang
tetesan-tetesan air berselang sepuluh detik datang dari langit
Lonceng sekolah di dentangkan
para murid berhamburan keluar
dengan kasogi hitam dan kaos kaki putih
kaki-kaki mungil tak berdosa bergerak tak sama
Halaman sekolah yang belum di padatkan
injak tanah, lumpur pun muncrat
sedikit becek hari ini
karena hujan di Minggu sore
Murid-murid berbaris rapi
dengan seragam yang sama
dan topi sekolah yang merah
persis prajurit yang siap di terjunkan ke medan perang
Murid-murid berbaris rapi
dengan seragam yang sama
dan topi sekolah yang merah
menatap kosong ke arah tiang bendera yang tak berbendera
Saturday, January 13, 2007
Pilihan (2)
Hidup itu pilihan
Hidup bagai serpihan-serpihan yang tersebar di berbagai penjuru
Atau mati terhormat di salah satu sudut
Tiada cela
Hidup bagai serpihan-serpihan yang tersebar di berbagai penjuru
Atau mati terhormat di salah satu sudut
Tiada cela
Sedepa Di Depan Mata
Jarak antara kita hanya sedepa
namun kau membuatnya seakan menjadi seribu depa
dapat kulihat jelas kedua bola matamu
tengah sembunyi di balik gelak tawa kosong
Berlari lalu sembunyi
terkadang kau mengintip sekilas saat sembunyi
hanya 0.5 detik
tidak...aku yakin kurang dari itu
Kita tengah bermain petak umpet
tapi bukan tubuh kita yang bermain
hanya indera kita saja
yakni mata kita yang sedepa
Yang sedepa itulah yang menjadi permasalahan
tapi malam itu aku tak pernah sembunyi
barang sedetik pun
aku tengah memandangimu
Tak hentinya
aku mengejarmu
hendak menangkapmu
agar gantian engkau yang jaga
Tapi begitu lihainya dirimu mengelak
aku tak dapat menemukanmu
aku hanya menatap bayanganmu saja
kemana kau larikan dirimu yang sebenarnya?
Perlahan aku mengerti
aku menyelinap dalam bayangmu
menjadi dirimu sejenak
aku pun tergelak
Sungguh lucu
kisah seorang manusia
yang sama
yang tak tahu akan dirinya tengah berada di mana
Yang tak melihat dirinya dalam cermin
sebagai kepompong busuk
yang di tinggal kupu-kupu
terbang jauh melayang
Tiada yang menertawai kami
tiada yang menangisi kami
yang ada hanya mereka
yang mencibir kami
Akh...aku lupa
jarak kita masih terpaut sedepa
aku sanggup menjulurkan tanganku
lalu kau menyambutnya
Itu pun kalau hati kita terpaut
bagai rantai
yang kokoh
bukan selembar tisu
Akh...aku pun lupa
hati kita memang tak terpaut
tapi perasaan kita
tak pernah ada sekat
Terkadang aku bisa mengintip
dirimu saat resah
tapi aku sangsi
apakah kau begitu juga?
Berapa depa lagi
yang harus kita lalui
dengan melelahkan
seperti ini?
Memang,
tak pernah ada sepasang singa jantan
dalam satu wilayah
kekuasaan rimba yang liar
Mungkin hanya satu
yang bisa menghapus sedepa ini
yakni kesirnaan
salah seorang dari kita
Karena kupikir
semuanya terlambat
arak kepongahan telah habis
kita minum
Di bawah purnama
yang pucat
dalam pekat malam
yang mencekam
Tiada lagi cerita kepahlawanan
yang dulu kita diskusikan
sembari mabuk
bagai 1807 tahun silam
Sungguh,
aku rindukan masa itu
kita yang bodoh
bercerita tentang zaman
Waktu tak bisa berjalan mundur
hanya bisa maju
dan maju
ia tak kenal belas kasih
Akh... kembalikanlah kami
seperti dulu lagi
saat belum mengenal
apa itu kesempurnaan
namun kau membuatnya seakan menjadi seribu depa
dapat kulihat jelas kedua bola matamu
tengah sembunyi di balik gelak tawa kosong
Berlari lalu sembunyi
terkadang kau mengintip sekilas saat sembunyi
hanya 0.5 detik
tidak...aku yakin kurang dari itu
Kita tengah bermain petak umpet
tapi bukan tubuh kita yang bermain
hanya indera kita saja
yakni mata kita yang sedepa
Yang sedepa itulah yang menjadi permasalahan
tapi malam itu aku tak pernah sembunyi
barang sedetik pun
aku tengah memandangimu
Tak hentinya
aku mengejarmu
hendak menangkapmu
agar gantian engkau yang jaga
Tapi begitu lihainya dirimu mengelak
aku tak dapat menemukanmu
aku hanya menatap bayanganmu saja
kemana kau larikan dirimu yang sebenarnya?
Perlahan aku mengerti
aku menyelinap dalam bayangmu
menjadi dirimu sejenak
aku pun tergelak
Sungguh lucu
kisah seorang manusia
yang sama
yang tak tahu akan dirinya tengah berada di mana
Yang tak melihat dirinya dalam cermin
sebagai kepompong busuk
yang di tinggal kupu-kupu
terbang jauh melayang
Tiada yang menertawai kami
tiada yang menangisi kami
yang ada hanya mereka
yang mencibir kami
Akh...aku lupa
jarak kita masih terpaut sedepa
aku sanggup menjulurkan tanganku
lalu kau menyambutnya
Itu pun kalau hati kita terpaut
bagai rantai
yang kokoh
bukan selembar tisu
Akh...aku pun lupa
hati kita memang tak terpaut
tapi perasaan kita
tak pernah ada sekat
Terkadang aku bisa mengintip
dirimu saat resah
tapi aku sangsi
apakah kau begitu juga?
Berapa depa lagi
yang harus kita lalui
dengan melelahkan
seperti ini?
Memang,
tak pernah ada sepasang singa jantan
dalam satu wilayah
kekuasaan rimba yang liar
Mungkin hanya satu
yang bisa menghapus sedepa ini
yakni kesirnaan
salah seorang dari kita
Karena kupikir
semuanya terlambat
arak kepongahan telah habis
kita minum
Di bawah purnama
yang pucat
dalam pekat malam
yang mencekam
Tiada lagi cerita kepahlawanan
yang dulu kita diskusikan
sembari mabuk
bagai 1807 tahun silam
Sungguh,
aku rindukan masa itu
kita yang bodoh
bercerita tentang zaman
Waktu tak bisa berjalan mundur
hanya bisa maju
dan maju
ia tak kenal belas kasih
Akh... kembalikanlah kami
seperti dulu lagi
saat belum mengenal
apa itu kesempurnaan
Friday, January 5, 2007
Pelempar Batu
Di bawah derai air mata para janda
ibu-ibu yang telah uzur
gadis-gadis kecil yang akan berangkat ke sekolah
bayi-bayi yang menjerit dalam pelukan
Dan di linangi senandung lirih doa para orang tua
guru-guru sekolah
wanita penanti datangnya petang
yang menghunus langit hingga terkoyak menuju Arsy-Nya
Fajar baru merekah
sedari tadi kau sudah terbangun dari tidurmu
hari ini pun begitu
seusai sholat subuh kau berkemas
Kecup hangat tangan mulia ibu mu
keningnya
dan pipinya
biarkan ia melumuri mu dengan doa dan balut usap kepalamu
Mungkin hari ini kau tak kembali
dapatkah kau intip sedikit tentang esok?
wahai pemuda
penanti esok
Waktu dhuha sudah dekat
tak sempat kau sarapan pagi
kau pun berdiri di halaman rumahmu
dengan batu-batu dalam kantong celanamu
Jilatlah angkasa
basahi dengan buih liurmu
karena mereka yang di belakangmu pun
berbuat demikian
Langit tak bertiang
yang di tinggikan
adalah keyakinan tersisa
yang masih kau genggam
Tiada lagi terdengar si Bulbul bernyanyi
seperti dahulu kala
saat fajar merekah
dan anak-anak berangkat ke sekolah
Wahai para pelempar batu
pelindung para wanita
gadis-gadis kecil yang suci
dan ayah-ayah mereka
Berlari bagai kuda di medan pertempuran
segagah mobil perang yang tengah melaju
di jalanan beraspal
yang haram bagi mereka tuk menginjaknya
Dengus nafas buas mereka terdengar
hewan-hewan liar pemangsa tak pandang mata
yang tubuhnya terbalut
oleh baja berkualitas tinggi
Sepercik darah mereka
harus di bayar dengan
seribu nyawa temanmu
juga nyawamu
Wahai para pelempar batu
yang tengah berlindung
dari ganasnya
peluru menerjang
Di belakangmu Al-Aqsa
di depanmu musuh yang hendak memperkosanya
darahmu sebagai taruhan
dan harga diri sebagai senjata
Di saat kau merasa tiada asa
kau kembali menatap ke belakang
gelegak darahmu pun kembali bergelora
Tak rela kau serahkan ia ke tangan mereka
Wahai para pelempar batu
langit sudah merah
sebentar lagi gelap
ibu mu tengah menanti di rumah
Dengan harap cemas
resah gelisah
akan bentuk dirimu
tatkala sampai di rumah nanti
Jika sempat
tidurlah sejenak
di bawah kemul dekap hangat ibu mu
karena esok pasti kembali
dan belum tentu kau kan kembali
ibu-ibu yang telah uzur
gadis-gadis kecil yang akan berangkat ke sekolah
bayi-bayi yang menjerit dalam pelukan
Dan di linangi senandung lirih doa para orang tua
guru-guru sekolah
wanita penanti datangnya petang
yang menghunus langit hingga terkoyak menuju Arsy-Nya
Fajar baru merekah
sedari tadi kau sudah terbangun dari tidurmu
hari ini pun begitu
seusai sholat subuh kau berkemas
Kecup hangat tangan mulia ibu mu
keningnya
dan pipinya
biarkan ia melumuri mu dengan doa dan balut usap kepalamu
Mungkin hari ini kau tak kembali
dapatkah kau intip sedikit tentang esok?
wahai pemuda
penanti esok
Waktu dhuha sudah dekat
tak sempat kau sarapan pagi
kau pun berdiri di halaman rumahmu
dengan batu-batu dalam kantong celanamu
Jilatlah angkasa
basahi dengan buih liurmu
karena mereka yang di belakangmu pun
berbuat demikian
Langit tak bertiang
yang di tinggikan
adalah keyakinan tersisa
yang masih kau genggam
Tiada lagi terdengar si Bulbul bernyanyi
seperti dahulu kala
saat fajar merekah
dan anak-anak berangkat ke sekolah
Wahai para pelempar batu
pelindung para wanita
gadis-gadis kecil yang suci
dan ayah-ayah mereka
Berlari bagai kuda di medan pertempuran
segagah mobil perang yang tengah melaju
di jalanan beraspal
yang haram bagi mereka tuk menginjaknya
Dengus nafas buas mereka terdengar
hewan-hewan liar pemangsa tak pandang mata
yang tubuhnya terbalut
oleh baja berkualitas tinggi
Sepercik darah mereka
harus di bayar dengan
seribu nyawa temanmu
juga nyawamu
Wahai para pelempar batu
yang tengah berlindung
dari ganasnya
peluru menerjang
Di belakangmu Al-Aqsa
di depanmu musuh yang hendak memperkosanya
darahmu sebagai taruhan
dan harga diri sebagai senjata
Di saat kau merasa tiada asa
kau kembali menatap ke belakang
gelegak darahmu pun kembali bergelora
Tak rela kau serahkan ia ke tangan mereka
Wahai para pelempar batu
langit sudah merah
sebentar lagi gelap
ibu mu tengah menanti di rumah
Dengan harap cemas
resah gelisah
akan bentuk dirimu
tatkala sampai di rumah nanti
Jika sempat
tidurlah sejenak
di bawah kemul dekap hangat ibu mu
karena esok pasti kembali
dan belum tentu kau kan kembali
Wednesday, January 3, 2007
Sepucuk Surat
Rentang satu purnama ini sungguh sunyi
berharap menulis sepucuk surat tuk seseorang yang di damba
yang kiranya jauh di mata
dan tak juga dekat di hati
Sampai musim berganti
kan kumasuk kan surat ini ke dalam botol
dan kulemparkan ke tengah samudera yang luas
biarlah ia terombang ambing dalam ganasnya ombak
Tak perlu khawatir
tak kan hancur dikau di telan ombak
kau kan terus berlayar
sampai berlabuh di sebuah pulau kecil yang kau dambakan
Sampai pada saatnya
seseorang kan membacamu
kau yang ku untai dengan kata-kata sederhana
segera sampaikanlah kabar itu padaku
Sudah lama aku menantikannya
seseorang menaiki sampan kecil itu
dari kejauhan di payungi lembayung senja
perlahan menuju ke tempatku
Dapat kulihat jelas riak kecil air tersibak dayung
caping besar yang menutupi wajah
gaun putih pucat yang melambai-lambai
siluetmu berdiri di atas samudera yang horizontal
Aku melambaikan tangan
lalu berlari di atas lembutnya pasir bertelanjang kaki
bersorak gembira
menyanyikan tembang senja
Kau benar-benar datang
dalam pikirku
aku benar-benar menanti
dalam duduk ku
Karawaci, 4 Januari 2007
berharap menulis sepucuk surat tuk seseorang yang di damba
yang kiranya jauh di mata
dan tak juga dekat di hati
Sampai musim berganti
kan kumasuk kan surat ini ke dalam botol
dan kulemparkan ke tengah samudera yang luas
biarlah ia terombang ambing dalam ganasnya ombak
Tak perlu khawatir
tak kan hancur dikau di telan ombak
kau kan terus berlayar
sampai berlabuh di sebuah pulau kecil yang kau dambakan
Sampai pada saatnya
seseorang kan membacamu
kau yang ku untai dengan kata-kata sederhana
segera sampaikanlah kabar itu padaku
Sudah lama aku menantikannya
seseorang menaiki sampan kecil itu
dari kejauhan di payungi lembayung senja
perlahan menuju ke tempatku
Dapat kulihat jelas riak kecil air tersibak dayung
caping besar yang menutupi wajah
gaun putih pucat yang melambai-lambai
siluetmu berdiri di atas samudera yang horizontal
Aku melambaikan tangan
lalu berlari di atas lembutnya pasir bertelanjang kaki
bersorak gembira
menyanyikan tembang senja
Kau benar-benar datang
dalam pikirku
aku benar-benar menanti
dalam duduk ku
Karawaci, 4 Januari 2007
Subscribe to:
Comments (Atom)