Sunday, February 18, 2007
Hierarki (Sub-Lowo)
Pedang yang terhunus di tangan kananku
Ujungnya yang tumpul nanti akan kuasah
Hingga tajam berkilau
Untuk menusuk tubuhmu
Mematahkan tulang-tulang tuamu
Oh engkau yang malang
Pagi mu, Siang mu, dan soremu hanya menjadi sebuah kisah saja
Kelelawar malam
Sebaiknya kau kembali saja pada malammu
Aku memujimu
Lowo
Untuk pertama kalinya ia melihat awan yang menggumpal bagai kapas. Bayangan dirinya di permukaan air laut yang jernih. Kawanan burung yang tengah terbang bersama. Dan birunya langit terbentang. Untuk pertama kalinya pula ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Ia terbang dengan kecepatan tinggi. Derasnya angin yang menerpa wajah tak membuat ia mengurangi kecepatan terbangnya sedikit pun.
Ketika ia melewati hutan belantara, di lihatnya sekelompok kera tengah berayun-ayun di akar gantung pohon-pohon raksasa. Si kelelawar bertengger sejenak di salah satu dahan pohon sambil memperhatikan mereka. Dunia begitu luas pikirnya. Namun ketika ia berusaha menyelami sekelompok kera-kera yang tengah bermain itu, ia tak lagi bergumam dunia itu luas, namun sebaliknya. Berjam-jam ia bertengger di sana. Lalu ia memutuskan tuk melanjutkan perjalanannya membelah belantara hutan. Beribu kilometer telah ia lalui, namun ia tak pernah temui akhir dari perjalanan yang membentang ini. Ia merasa bosan. Ia memutuskan untuk merobek luasnya samudera. Ini luar biasa, pikirnya. Di temuinya samudera yang tak pernah berakhir. Sesekali ia menyelam sejenak untuk melihat sekelompok makhluk yang
bernaung di dalamnya. Ia bergumam kembali, "kasihan mereka yang hidup di dunia yang sesempit ini". Dunia ini begitu ciut pikirnya. Serasa menghimpit dirinya. Hingga tulang-tulangnya remuk. Membuatnya luluh lantah. Ia pun muntah. Air matanya mengalir di pipinya.
Ia memekik. memekik. terus memekik. Ia tak bisa menerima keberadaan dirinya di dunia ini. Ingin lenyap. Aib bagi dunia ini. Aib juga baginya. Aku salah tempat. Aku bernaung bukan di sebuah dunia. Aku terlalu ngeri untuk mengatakannya. Di sekitarku tak terlihat satu makhluk pun. Aku sendirian. Langit yang membisu dan dunia yang berkelakar. Tolong. Selamatkan aku. Aku aib. Semuanya tiba-tiba menghilang dari kepalaku. Dadaku bergemuruh. Aku ingin ke luar angkasa. Batinku tersiksa. Waktu yang memaksa tubuhku untuk terus berlari. Tapi aku ingin berhenti. Menghirup teh dan sedikit cemilan di atas sebuah batu. Bersama sahabat-sahabat yang menghilang ribuan tahun yang lalu. Aku ingin kopi cokelat. Bukan kopi pekat. Kelelawar itu terus menangis meraung-raung. Batinnya juga tersiksa.
Bergelut dengan dirinya sendiri. Deritanya tak menjadi bahagia. Bahagianya tak menjadi derita. Suka citanya tak menjadi cita. Duka citanya tidak pula menjadi duka. Berhenti.
Itu sekotak mainan yang telah berdebu dan tenggelam oleh air mata mereka sendiri. Dan pernah kau torehkan dirimu di tubuh-tubuh mereka. Kelelawar terus memekikkan namanya sendiri tiada henti. Lalu bercerita tentang bumi yang berputar pada porosnya. Berevolusi pada
matahari. Bumi yang bulat. Bumi yang menghampar. Bumi yang tegak. Manuskrip-manuskrip yang bertebaran di tiup angin. Lenyap di telan matahari dan panasnya. Putera mahkota. Dirimu tak di hargai sedikit pun. Tak lebihnya seonggok kotoran di tepi jalan. Dirimu tidak eksis.
Generasiku. generasiku. Yang akan mengambil alih kekuasaan. Yaitu generasiku. Aku ada. eksis. matamu buta. awan yang menggumpal menutupi pandangmu dari matahari yang panas dan bercahaya. Keledai tua yang sebentar lagi tulang belulangnya berserakan. Sebaiknya menjadi penonton saja. Kisah cerita dunia ini. Hingar bingarnya.
Aku pangeran. pedang yang terhunus di tangan kananku. Ujungnya yang tumpul nanti akan kuasah. Hingga tajam berkilau. Untuk menusuk tubuhmu. Mematahkan tulang-tulang tuamu. Oh engkau yang malang. Pagi mu, Siang mu, dan soremu hanya menjadi sebuah kisah saja. Kelelawar malam. Sebaiknya kau kembali saja pada malammu. Aku memujimu.
Monday, February 12, 2007
Sekarat
terbangun di pagi selanjutnya tanpa mengenali sesama lagi
aku menatap dirimu yang kehilangan sebagian ingatan mu
semuanya mungkin...
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah berkelakar bersama seorang gadis latin?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah menggoda ibu-ibu muda yang seksi di tempatku?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah memuji keelokan seorang gadis berambut pirang di sebuah sekolah?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah mengagumi kemolekan gadis-gadis yang masih bau kencur di sini?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah memberi penilaian pada setiap atraksi gadis-gadis sirkus itu di kursi ini?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah terhenyak dengan keimutan gadis-gadis jepang di rumahku?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah mandi bersama dengan pelacur dalam hangatnya air di kamar mandiku?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah mencoba mengintip seorang gadis muda yang tengah tertidur pulas di kasurku tanpa busana sedikit pun?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah berbuat liar bersama wanita bergaun merah di kamarku?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah menangkap basah sepasang gadis muda tengah bercumbu di kamarku?
akan masih ingatkah kau kalau dulu kita pernah memergoki sepasang muda mudi tengah bermain kuda-kudaan di karpet ini?
Hihi...
semuanya begitu indah
begitu lucu kalau kubilang
andai saja kau tidak terjangkit penyakit itu
kita kan terus mengarungi kesenangan-kesenangan itu bersama
sampai ini semua harus berakhir
Tak kusangka baru sekejap kita bersama
kau harus pergi bersama sebagian ingatanmu
hidup serasa sehari saja
begitu cepat
Akankah kau masih ingat diriku nanti?
kamar ini?
kursi ini?
tangan ini?
Ataukah semuanya harus kembali lagi dari nol?
mengenalkan padamu lagi tentang apapun yang kau temui?
kalau memang itu yang harus terjadi
akan kulakukan
Sekarang semuanya tergantung pada diriku
yang masih berat melepas kepergianmu
yang bersikeras menahanmu tuk terus hidup bersamaku
sampai kau mati dengan sendirinya
Sunday, February 11, 2007
Istana Pasir
Terdengar derap langkah gontai dalam sayup desir zaman
berbondong-bondong ternak tengah baris berbaris rapi bagai prajurit siap menyambut mati
di medan senja bertebar bunga dengan ujung penuh muntah
tali-tali yang di ikat pada leher dan ekor mereka sebagai sebuah realita nyata
korban kekaisaran zaman di atas awan yang telah lama di mulai
bermacam warna jeritan terdengar dari mulut mereka yang bisu
sambil menatap pada aspal panas pelepuh kaki-kaki tak berdaya
beserta langkah yang retak di makan detak jam
yang hancur berkeping bersamaan wajah-wajah mereka
sebagai jiwa-jiwa terlontar
Aku teringat pada Tole yang bercerita tentang rupa
yang berkisah tentang ratusan camar beterbangan di angkasa bagai anai-anai
dan kura-kura belian sebagai induk semang yang bernaung di dalam lingkaran tak berjiwa
dimana camar-camar yang berimigrasi di tempat kini tengah berceloteh
kasihan si Tole yang tak paham apa yang sedang mereka celotehkan
di karenakan oleh samarnya sebuah bahasa yang mengalun lantang
yang di tatapnya hanya mereka yang kian lama jumlahnya kian bertambah banyak
hingga ia menepi ke tepi yang paling tepi
menyepi ke tempat yang paling sepi
menjauh ke sebuah tempat yang paling jauh
dan bergumam puas dengan hanya menjadi sebatang pohon bambu di ladang
Sebagai jasad yang tunggal
Katakanlah, Tole...
katakan...
kau jiwa manunggal yang tersisa
coba kau tengoklah sebentar
pada kaisar beserta kasim-kasim yang mengelilinginya
kala sedang berpesta di sebuah meja besar
dalam sebuah tempurung sunyi bernama tuli
lalu berkilah tentang adanya peradaban
mereka yang meyakini langit t'lah pekak
sebagai saksi bisu abadi yang tengah hidup dalam waktu
bibir-bibir kering yang mengatup rapat seolah terkunci
mata-mata yang membelalak menatap ingkar
ternyata hanya menjadi sebuah cerita semu yang klise
memang telah terjerembab begitu dalam wajah-wajah ini karena ulah permainan mereka
hingga harus kehilangan sebongkah permata yang berharga
yakni sepasang mata
sepasang telinga
sepasang tangan
sepasang kaki
dan rupa
Tuesday, February 6, 2007
Objektivasi Diri Dalam Ilusi (Part3)
Ini pasti karena semalam.
Ketika aku duduk bersebelahan dirimu di sofa dan di depan kita ada televisi yang menyala.
Sepasang tatap aku lihat.
Selembar senyum aku tatap.
Dan sebuah keanggunan yang ku kagumi.
Perkataanmu yang semalam itulah yang ada di malam yang ini.
Mobil kijang yang kita tumpangi bersama beberapa sosok lainnya melaju cukup kencang. Menggilas lumpur tiada ampun. Menembus hujan dan angin sejuk. Bersama pekatnya malam itu. Sekitar beberapa kilometer kita melaju dalam gelap. Dalam sebuah mobil sempit. Bagai sekumpulan ayam yang kaki dan tubuhnya di ikat dalam truk. entah hendak di bawa kemana. Berdesak-desakan hingga hampir tak bisa bernapas.
Mobil kijang yang kita tumpangi berhenti. Sudah sampai di tujuan. Kita pun turun bersama.
Sebuah gang di depan mata. Aku lupa jalan apa itu namanya. Jalannya becek, penuh lumpur. Aku juga melihat beberapa genangan air di sana.
Lalu kita berjalan melalui gang tersebut. Ada dua orang yang berjalan menuju kita. Salah seorangnya bertubuh pendek. Aku menduga mereka sepasang sahabat atau saudara. Mereka berjalan melewati kita begitu saja.
Di ujung gang semakin gelap. Ada sebuah gubuk di sana. Di dalamnya lebih gelap lagi. Tapi aku dapat melihat dengan sedikit jelas di dalamnya. Entah apa yang waktu itu kita bincangkan di sana. Tapi aku yakin semalam itulah yang kau katakan padaku di malam ini.
Waktu berlalu cepat. Hanya sebentar kita berbincang. Kita pun bergegas kembali ke mobil kita. Tapi langkahmu terlalu cepat. Aku tertinggal.
Kita saat ini tengah berada di daerahmu.
Aku dapat mengenali jalan ini.
Itu jalan menuju rumahmu. Gang yang kita lalui adalah jalan menuju rumahmu.
Aku tak sempat menyusulmu. Kau meninggalkan aku sendirian. Aku tak sempat naik mobil. Laju mobil kijang tersebut sekitar beberapa kilometer per jam saja. Berjarak sekitar lima atau enam meter di depanku secara permanen. Aku terus mengejarnya.
Berteriak tanpa suara. Namun dengan sedikit asa.
Dua orang yang tadi kita lewati tadi tengah berjalan menuju ke arahku. Choi?. Mirip.
Mengapa tak kau hitung dulu jumlah orang yang ada di mobil kijang itu?.
Tidak kah kau heran kalau tidak ada kicauku di dalamnya?.
Aku di temani cekam di malam itu.
Bersama hujan yang turun ke bumi.
Itulah yang terjadi antara aku dan dirimu. Dan juga sosok-sosok yang ada di dalam mobil kijang kita. Saat semalam itu.
Katakan...
Smpurna! Spurna! Sempun! Smpura!
Sempuna! Semurna! Semuna! Smpu!
Smprna! Seurna! Semua! Smpur!
Smprn! Seuna! Sempa! Smna!
Sempura! Sempur! Sempu! Smra!
Sempua! Sempurn! Seurna! Smua!
Empurna! Epurna! Eurna! Sma!
Emprna! Empurn! Euna! Era!
Emprn! Emurna! Emua! Eura!
Empun! Emurna! Eua! Epra!
Emuna! Emura! Ea! Empua!
Sepa! Sempu! Seua! Sea!
Sepua! Sempra! Ser! Sena!
Sepuna! Sempa! Sep! Semu!
Seprua! Sempr! Sem! Smu!
Sepur! Serna! Seu! Smp!
Sepura! Sera! Ser! Sepa!
Sepra! Seura! Seur! Sem!
Epa! Eu! Ern! Eun!
Epur! Eru! Erna! En!
Epura! Emp! Ema! Er!
Epurna! Empu! Emur! Em!
Empur! Ep! Emu! Emu!
....dst....dst....
Gabungkan kata-kata yang kau sukai lalu katakan padaku tentang sempurnamu.
Monday, February 5, 2007
Manusia Dalam Kabut
Kau sibuk membuka jalanmu dengan sabetan pisau di tanganmu. Kelihatannya kau menikmatinya dan sudah terbiasa. Aku tahu. Kau sudah berpuluh tahun bergelut di daerah ini. Kau sudah mengenal betul setiap jengkalnya. Aku baru saja menginjakkan kaki ku kemarin. Tapi arus sungai ini sedikit deras. Aku takut lengah dan terseret. Kurasakan, ini bukanlah suatu yang berat. Tidak juga ringan. Sekitar 180 meter ke tepian. Dan aku tak tahu bilamana bahaya yang muncul ketika aku berada di tengah-tengah nanti.
Tatkala air di sungai kusibakkan dengan dayungku pada kedua kalinya, aku masih bisa menatap bayanganmu yang tengah menghilang dalam belantara belukar. Kecipak kecil air yang kuciptakan bersama dayung ini seakan memecah keheningan waktu itu. Dan aku pun masih mendengar sayup suara sabetan pisaumu menebas ranting-ranting dan dedaunan di depanmu. Kabut mulai datang. Membatasi jarak pandang di antara kita. Kita mulai terpisah. Berjalan sendiri.
Sungai ini sejujurnya terlalu luas untuk kuarungi sendiri. Kupikir setidaknya aku dan kau berada di dalam satu sampan yang sama. Sehingga kita bisa terus bercakap. Di terpa angin tipis. Menggigil dalam tebalnya kabut. Mengayuh dayung bersama. Dan mengalami rasa takut yang sama. Mungkin hanya gelak tawa yang terlontar dari mulut kita berdua. Ketololan demi ketololan yang tak berangsur sirna. Bercakap tanpa makna. Terkadang melintas saja. Tak berhenti di kepala masing-masing.
Tapi aku tahu. Setiap kali bepergian kau selalu menyimpan sesuatu di sakumu. Sekantong racun. Aku tak tahu apa yang akan kau perbuat dengan itu. Bila ingin membunuhku, sebenarnya kau pun sudah membunuh diriku. Kau hujam diriku dengan pisaumu. Dua belas tusukan atau tiga belas mungkin kurang. Kau robek dadaku dan kau ambil jantungku. Bagaimana rasanya kau kunyah jantungku yang merah itu? Pandanganku mengabur. Aku tak dapat melihat sekitarku dengan jelas. Di tambah kabut sial ini. Membuat segalanya menjadi semakin tak jelas. Aku kehilangan kompas sebelum kita temui persimpangan jalan tadi. Karena itu aku tak tahu harus kemana. Tapi sekilas aku melihat cahaya di tepian sungai. Aku tak tahu. Apakah itu kompasku. Atau pisau komandomu.