aku melihat permainan
aku ingin menjadi bagiannya
aku ingin mencobanya
aku ingin melebur ke dalamnya
aku tak punya waktu
untuk bermain
aku tak pernah punya
cukup waktu
permainan akan di tutup
di bongkar dan di tiadakan
padahal tiket sudah terbeli
dan baju baru sudah kupakai
semuanya musnah....
semuanya sia-sia...
padahal susah payah aku tidur cepat
menunggu hari ini tiba
padahal susah payah aku menabung
menunggu hari ini tiba
padahal susah payah aku bersabar
menunggu hari ini tiba
ternyata semuanya tak lebih dari
kebohongan halus semata
aku ingin bermain
aku ingin tiket bermainku kembali
Friday, July 20, 2007
Wednesday, July 18, 2007
Sunday, July 15, 2007
Surat Yang Tak Terkirim
secarik kertas dan
sebatang pena sebagai
teman laraku
di dada
pengusir sepi dan
penutup dinginnya malam
aku tercekik perih oleh
sebuah purnama
di jerat sinar-sinarnya
sampai menembus
relung hatiku
limbung dalam pelukan
bintang-bintangnya
aku ingin menulis seribu kata
bukan...
sejuta kata saja
tentang sepasang
tatapmu
dalam setiap kerdipnya
dengan sekejap kilaunya
lalu aku ingin melukis
selembar senyum
dengan gurat jariku
sendiri
dalam terpejam
kuleburkan warnamu dalam pelangi
namun tak pernah tercipta di kedua jariku
perlahan engkau terbentuk
dengan warna hitam
dan putih
oleh sebuah rangkaian
kata-kata
yang bergemuruh di dalam dadaku
dan ingin keluar dari jiwa yang rapuh ini
aku hanya ingin mengatakan
bahwa dirimu telah membawaku lari
jauh....
jauh sekali...
dari paradoks
yang menggerogoti tulang belulangku
dan mengoyak kulitku
aku hanya ingin mengatakan
bahwa dirimu telah membuatku
terlelap...
nyenyak sekali...
dalam buaian kabutmu
yang membuatku mabuk
dan tak sadarkan diri
aku hanya ingin mengatakan
tentang rangkaian kata
yang membentuk rupamu
perlahan dengan desis
di telingamu
tahukah kini kau, sayang?
aku terbujur kaku merindumu
sebatang pena sebagai
teman laraku
di dada
pengusir sepi dan
penutup dinginnya malam
aku tercekik perih oleh
sebuah purnama
di jerat sinar-sinarnya
sampai menembus
relung hatiku
limbung dalam pelukan
bintang-bintangnya
aku ingin menulis seribu kata
bukan...
sejuta kata saja
tentang sepasang
tatapmu
dalam setiap kerdipnya
dengan sekejap kilaunya
lalu aku ingin melukis
selembar senyum
dengan gurat jariku
sendiri
dalam terpejam
kuleburkan warnamu dalam pelangi
namun tak pernah tercipta di kedua jariku
perlahan engkau terbentuk
dengan warna hitam
dan putih
oleh sebuah rangkaian
kata-kata
yang bergemuruh di dalam dadaku
dan ingin keluar dari jiwa yang rapuh ini
aku hanya ingin mengatakan
bahwa dirimu telah membawaku lari
jauh....
jauh sekali...
dari paradoks
yang menggerogoti tulang belulangku
dan mengoyak kulitku
aku hanya ingin mengatakan
bahwa dirimu telah membuatku
terlelap...
nyenyak sekali...
dalam buaian kabutmu
yang membuatku mabuk
dan tak sadarkan diri
aku hanya ingin mengatakan
tentang rangkaian kata
yang membentuk rupamu
perlahan dengan desis
di telingamu
tahukah kini kau, sayang?
aku terbujur kaku merindumu
Subscribe to:
Comments (Atom)