Tuesday, September 11, 2007

Melukis

lukiskan tulisanku
bahasaku
lidahku
serta jiwaku

tanpa air mata
tanpa hati
dan
tanpa harapan

Monday, September 10, 2007

Dinamit

ku titip salam
pada dinamit
peluluh lantah
dadaku

ku titip salam
pada anak panah
beracun pelubang
dadaku

ku titip salam
pada pisau
pengiris-iris
dadaku


Selama seperempat abad terakhir akhirnya aku tertusuk lagi oleh tangkai mawar putih yang wangi. Duri-duri kecilnya mengoyak pelan kulit dan dagingku. Luka yang menganga lebar melelehkan tangisan-tangisan terpendam dalam tubuh selama ini. Semuanya karena sebentuk wajah imajiner terealisasikan dalam realita. Bibir yang mengatup erat gemetar, mengering bagai daun-daun layu. Ada si pemain jantung hati yang berdiri di depanku. Sekat-sekat imajinatif yang mendorongku menatap buta pada kegelapan. Jangan lihat. Tapi telinga tidaklah tuli, maka itu aku melihatnya melalui telingaku.
Bagaimana rasa setetes madumu itu?

ku titip salam
pada mereka
yang membunuhku
diam


aku meledak sekali lagi...

Saturday, September 1, 2007

Bergerak Diam

Sejenak diri yang berdiam pada satu sudut ini tengah bertanya kepada dirinya yang diam. Apakah kiranya melangkah adalah sesuatu yang nista?. Kadangkala tatkala mata memandang mereka yang berjalan dan berlari melewati diri dari depan dan belakang, tiba-tiba gemuruh badai gamang menggelegar dan menyambar-nyambar bagai petir di dalam dada. Kiranya, salahkah mereka yang bergerak?. Mereka yang bergerak dalam langkah yang sederhana. Langkah yang mengalun pelan menyambung langkah berikutnya pada esok hari dan keesokan harinya lagi.
Mereka yang merelakan tubuhnya menjadi landasan terbang yang tak pernah berkeinginan terbang terlalu tinggi.
Sedangkan diri yang masih berdiam pada tempatnya masih memiliki sejuta mimpi yang terkubur dalam-dalam. Manakah yang lebih mulia?.
Salahkah bila salah sejiwa bergerak lantaran di tinggal bapaknya pergi merantau kembali?.
Mereka yang kepayahan setelah melihat wujud dunia. Lalu diri bersama yang lain berdusta pada jiwa-jiwa serupa yang telah berjanji 'tuk bersatu padu di satu titik temu. Dalam hal ini, siapa lagi bila bukan lidah tak bertulang yang berperan besar pada pengkhianatan keji tersebut? Terperosok pada jurang yang terus tertawa keledai. Menghabiskan suara cuma-cuma.
Sampai kapan mereka yang berdiam terbutakan oleh tawa keledai mereka sendiri?.
Tak jarang arus bermuara pada kematian. Sekali lagi. Aku ingin bergerak. Karena aku rindu. Aku ingin melangkah sebelum aku lupa cara berjalan. Sebelum aku gila karena tertawa. Dan sebelum aku gila karena diam.

Sunday, August 26, 2007

Pembunuhan

tentang sekelompok pemuda yang berdiri di bawah gelap langit yang melilit. Mereka mengusung berbagai macam senjata tajam yang bermata lidah. Caping-caping yang mereka kenakan membuat bayang gelap di sebagian wajahnya hingga nampak menjadi sebuah kedok. Apa yang mereka bicarakan malam itu adalah tentang sebuah rencana pembunuhan. Seorang pemuda yang bertubuh kurus dan pendek berbicara, "Bunuh dulu! baru kita arak ke kampung-kampung". Lalu pemuda yang satu lagi berkata, "Tidak! Sebaiknya kita arak ke seluruh kampung, baru setelah itu kita eksekusi". Pemuda yang ketiga mendukung pendapat pemuda yang pertama, "Benar! Sebaiknya kita bunuh dulu agar lebih mudah". Tiba-tiba pemuda ke empat maju ke depan dan berbicara sedikit keras, "Biar mereka tahu dulu, apa akibatnya bila menjadi maling harta rakyat! Baru setelah itu kita bunuh!". Pemuda kelima yang juga merupakan pemuda terakhir sedikit bingung dalam memberi keputusan karena mereka berempat membentuk masing-masing kelompok yang berlawanan pendapat.

"Lekas! Sebentar lagi fajar!", buru pemuda keempat.
Pemuda kelima masih menimbang-nimbang keputusan apa yang hendak di ambilnya. Sedangkan keempat kawannya sudah tak sabar lagi, "Aih! Sudahlah! Kau pilih saja salah satu! Kau yang memimpin bukan? Lekas beri keputusan!".
Pemuda kelima tersentak mendengar desakan kawan-kawannya. Tak urung lagi ia segera memberi keputusan, "Baik! Kita akan bunuh dulu, baru setelah itu tubuhnya kita arak keliling kampung!". Pemuda pertama dan kedua gembira mendengar keputusan pemuda kelima, sedangkan pemuda ketiga dan keempat sedikit kecewa. Namun keputusan telah di tetapkan, dan mereka harus bisa berlapang dada.
Lalu Pemuda kelima bertanya, "Dengan apa kita membunuhnya?".
pemuda pertama menjawab, "Dengan racun! Karena lebih aman!". Lalu pemuda kedua menimpali, "Benar! Kita masukkan saja ke dalam cangkir kopinya biar mampus seketika dia minum itu kopi!".
Tetapi pemuda ketiga lagi-lagi berpendapat lain, "Tidak, terlalu lama dengan racun! Lebih baik langsung tebas batang lehernya untuk mempercepat kematiannya!". Pemuda keempat mengangguk setuju.

Pemuda kedua menyanggah, "Tapi terlalu berbahaya bila kita membunuhnya secara langsung! Bisa jadi ketika akan di tebas, ia terbangun dan melawan kita!". Pemuda pertama mengiyakan.
Lalu pemuda keempat naik pitam, "Membunuh dengan racun tak menjamin dia bisa terbunuh! Salah-salah istrinya yang minum kopi itu!". Pemuda ketiga setuju dengan pendapat yang rasional ini. Lalu pemuda kelima memberi keputusan, "Hmmmm....baik! Kalau begitu kita akan langsung menyeruak masuk ke kamarnya dan menebas batang leher si tua keparat itu!".
Lalu pemuda kelima bertanya, "Hmm...lalu nanti setelah dia terbunuh, bagaimana cara kita mengaraknya?". Keempat pemuda yang selalu bersilang pendapat ini terdiam.
Lalu Pemuda pertama angkat bicara duluan, "Kita tusukkan kepalanya seperti sate di atas tombak agar orang-orang percaya dia telah mati!".
Pemuda kedua menambahkan, "Betul! Lagian, kita juga tidak perlu repot-repot membawanya...hanya mengangkat kepalanya saja! Tidak begitu berat".
"Aku tidak setuju!...agar mereka lebih percaya bahwa si tua keparat itu telah mati, lebih baik bangkainya kita seret saja dengan tali tambang!", Protes pemuda ketiga.
Pemuda keempat sependapat dengan pemuda ketiga, "Dia benar...dengan begitu orang-orang kampung dapat sesuka hatinya meludahi bangkainya".

Pemuda kelima merenung sejenak. Pendapat kedua kelompok ini masuk akal semua. Tapi dia tahu tak boleh berpikir terlalu lama. Maka ia menjawab, "Kita seret saja tubuhnya!". Pemuda pertama dan kedua protes, "Akh...menguras tenaga kita saja!".
"Sudah cepat laksanakan!", Perintah pemuda kelima.
Ketika mereka berempat hendak bergerak menuju kerumah sasaran, pemuda keempat bertanya , "Siapa dulu di antara kita yang masuk? Lalu siapa yang akan menebas lehernya?"
Pemuda pertama menjawab, "Sebaiknya aku saja yang menebas lehernya. Aku mahir menggunakan pedang sedari kecil".
"Aku juga mahir menggunakan pedang! Sebaiknya aku saja!", Kata pemuda ketiga.
Pemuda kelima berpikir kembali. Sulit untuk memutuskan siapa di antara keduanya yang berhak menebas batang leher si sasaran. Lalu pemuda kelima berkata, "Baiklah...karena terjadi perselisihan antara keduanya, maka kalian berdua bertanding satu sama lain. Yang menang berhak menebas batang leher tua terkutuk itu!".

Lalu pemuda pertama dan ketiga bertanding pedang dengan seru. Tak terasa mereka telah bertarung selama berjam-jam dengan peluh dan debu melekat di tubuh mereka. Dan tak di sadari oleh kelima pemuda itu, fajar telah merekah. Langit terang. Orang-orang kembali beraktifitas seperti sehari-harinya.
Begitu sadar akan keadaan sekeliling, pemuda pertama dan ketiga segera menghentikan pertarungannya.
"Hari sudah terang!", Kata pemuda kelima.
"Lalu bagaimana ini?", Tanya pemuda kedua khawatir.
Di saat pemuda kelima berpikir lagi, di depan mereka terlihat sosok tua yang hendak mereka bunuh semalam tengah berjalan melewati mereka. Kelima pemuda tersebut tersenyum, dan sedikit membungkuk menghaturkan hormat kepada orang tua yang berlalu melewati mereka itu.
Pemuda keempat bertanya, "Lalu bagaimana selanjutnya?".
"Apa yang harus kita lakukan?", Pemuda kedua tampak kesal karena rencana pembunuhan semalam berantakan.
Sementara itu pemuda kelima kembali duduk di atas batu besar yang ada di dekatnya dan berpikir. Lalu tak lama kemudian ia berkata, "Baiklah....nanti malam kita susun rencana lagi".

Wednesday, August 8, 2007

Aku + Keluh Kesah Pecinta (feat Mr. Chairil Anwar)

aku bukan binatang jalang
aku hanyalah pengecut cinta yang malang
bukan karawang-bekasi aku harus menempuh
namun pada karawaci-cinere aku membilas peluh

bukan aku tak mau hidup seribu tahun lagi
tanpa cinta buat apa hidup barang sehari?
bukan kepada sri aku merindu
tapi kepada dia aku membujur kaku
hidupku tak hanya menunda kekalahan
tapi juga menunda cinta di hadapan

Pedih

seorang ksatria berbaju zirah hitam sekalipun
tak kuasa menahan pedih
di tolak cinta

Nekat

kau tolak cintaku
ku belah dadamu
kau benci diriku
ku curi hatimu