satu hari terlewati sudah
tapi hari-hari yang lalu tak akan pernah lenyap
selama masih ada esok
semuanya akan kembali seperti yang lalu-lalu
kecuali kau bunuh esok
mungkin masih ada cerita yang lain
yang lebih seru dari hari ini
bukan cerita yang habis
tapi cerita yang baru
malam masih belum habis. tapi pagi sudah tak sabar untuk segera mengetuk pintu malam. tuan jam dengan tenang merajut waktu. detik demi detik. jangkrik bersenandung riuh di dalam rerumputan liar. angin sedikit enggan berlari di antara dedaunan pepohonan. hanya sepasang kaki yang bergerak melawan gravitasi bumi menyibak rumput liar. aku mendengar wanita itu menghela napas dari balik pohon ini. katanya kepada tiang-tiang penyangga bumi, "seandainya esok adalah bukan hari ini, bukan pula hari kemarin, atau sebuah hari di mana aku masih berada di dalam rahim ibuku, aku pasti sudah membunuhnya bersama diriku".
lalu seekor burung malam yang tak pernah kulihat wujudnya seumur hidupku bertengger di pundak wanita itu.
"wahai burung malam yang malang! kepada siapakah kau tampakkan wujudmu pada manusia?"
wanita itu bertanya kepada burung itu dengan wajah memelas.
burung malam menjawab, "hanya kepada dirimulah aku tampakkan wujudku sebagai seekor burung malam. bukan sebagai burung pipit, atau burung yang lainnya".
"aku tak dapat menatap rupamu wahai burung malam!. mataku masih belum buta, walau hatiku sering di butakan olehnya!".
burung malam menjawab, "kau memang tidak buta, hatimu pun masih bisa melihat. hanya saja, wajahku hanya bisa terlihat oleh mereka yang mampu membuktikan bahwa esok itu benar-benar ada".
"bagaimana aku bisa percaya esok itu ada, wahai burung malam?. sudah beribu esok yang kulewati, namun semuanya seakan tergilas begitu saja oleh sebuah hari yang bernama hari ini.
lalu hari tersebut beringsut sedikit demi sedikit menjauhiku dan akhirnya berlalu seperti esok-esok yang t'lah lalu".
burung malam menjawab, "maka itulah aku mencari mereka yang mampu mendapatkan esok yang nyata. bukan esok yang semu. bukan pula esok yang telah di daur ulang. aku ingin esok. karena rupaku hanya bisa terlihat oleh esok".
sebelum wanita itu bertanya lagi, burung malam itu sudah mengepakkan sayapnya terbang tinggi melesat ke langit dan menghilang. meninggalkan wanita itu sendirian di dalam rahim ibunya. aku yang berdiri di bulan dan bersembunyi di balik pohon ini bertanya kepada seorang penyihir berjubah hijau yang kebetulan tengah mengendarai angsanya lewat di depanku.
"apa yang membuatmu malam-malam begini terjaga?"
penyihir itu menjawab, "suara ketukan di jendela....keras sekali!".
"siapa yang mengetuk jendelamu?", tanyaku
penyihir itu menjawab, "teman-temanku dan aku yang berada di awan".
"lalu apa yang kau lakukan setelah itu?"
penyihir itu menjawab, "aku segera memanggil angsaku dan terbang mengelilingi bulan sebanyak seratus kali".
aku hanya menggaruk kepalaku. yang kupikirkan saat ini bagaimana aku bisa melangkah ke planet di depanku jika kaki kiriku terjepit di antara bumi dan matahari. sedangkan kaki kananku terperosok di poros bulan. penyihir itu bersama teman-temannya melesat jauh meninggalkan bulan menuju bumi. sebelum pergi ia berpesan, "aku ingin menemukan esok di bumi!".
aku tercengang. dan berteriak kepadanya, "bagaimana kau bisa menemukannya?!".
penyihir itu hanya menengok sedikit sambil tersenyum, "aku bertemu burung malam yang terbang di antara asteroid!. ia mengatakan padaku aku akan menemukannya di sebuah planet bernama bumi".
"mengapa begitu??!" aku berteriak keras, karena tiba-tiba gemuruh angin pertanda pergantian hari menderu di telingaku.
penyihir itu menjawab, "karena ia telah bertemu dengan seorang wanita yang kembali ke rahim ibunya!".
gemuruh angin itu semakin keras hingga hampir memecahkan gendang telingaku. aku menutup telingaku kuat-kuat dengan kedua tangan. dalam sekejap, gemuruh itu meledak dan menebarkan anginnya ke seluruh alam semesta. aku terengah-engah. keringat bercucuran. baru saja aku berhasil lolos dari maut.
coba dengar. itu hari yang berganti lagi. lalu hari yang kemarin ada, telah di siapkan untuk menjadi hari esok pada keesokan harinya.
aku menatap ke arah lubang hitam di atas kepalaku yang menggerakkan milyaran bintang-bintang dengan teratur. aku pun ingin menemukan esok. esok yang lain. karena esok tak pernah bisa hancur sekalipun terhisap ke dalam lubang hitam tersebut. biarkan aku mencarinya.
Monday, January 7, 2008
Sunday, January 6, 2008
Rantai Waktu
tidur menjadi saat yang paling indah
ketika roda kehidupan menggilas kita
di waktu pagi
dan malam menjadi saat yang paling lembut
ketika datang menjabat tangan siang
di waktu sore
terjaga menjadi saat yang paling menyenangkan
ketika ada seseorang yang selalu kau awasi dari jauh
di waktu siang
dan pagi menjadi saat yang paling kau rindukan
ketika seseorang itu selalu hadir dalam tidurmu
di waktu malam
ketika roda kehidupan menggilas kita
di waktu pagi
dan malam menjadi saat yang paling lembut
ketika datang menjabat tangan siang
di waktu sore
terjaga menjadi saat yang paling menyenangkan
ketika ada seseorang yang selalu kau awasi dari jauh
di waktu siang
dan pagi menjadi saat yang paling kau rindukan
ketika seseorang itu selalu hadir dalam tidurmu
di waktu malam
Friday, January 4, 2008
Sakit
diriku diriku
dirimu dirimu
mungkin begitu pikirmu
bukan diriku dirimu
atau dirimu diriku
seperti dalam pikirku
akh...
malam ini aku ingin makan obat yang banyak
biar tidur nyenyak
dirimu dirimu
mungkin begitu pikirmu
bukan diriku dirimu
atau dirimu diriku
seperti dalam pikirku
akh...
malam ini aku ingin makan obat yang banyak
biar tidur nyenyak
Bocah Kecil
bocah kecil berkaos kuning lusuh itu bernama arif
masih duduk di kelas satu smp
tubuhnya gemuk, pendek, dan berkulit gelap
rambutnya kalau tidak salah cepak satu senti
ia menenteng tas kumal yang entah apa isinya
sudah pukul sepuluh malam tapi masih ada di dalam bis jurusan cimone tangerang
ketika penumpang penuh ia mulai berjalan ke depan
membagikan amplop putih kosong
lalu setelah itu ia mengambil kicrikan dari dalam tasnya
dan mulai berdendang
seperti biasa...
yang terdengar hanya bunyi kicrikannya saja
mungkin karena aku duduk di bangku paling belakang
anak yang hebat
padahal besok ia masih harus pergi ke sekolah
malam ini ia berjuang melawan lelah
demi seratus rupiah
sampai ketemu lagi arif
pada pukul sepuluh malam lagi
masih duduk di kelas satu smp
tubuhnya gemuk, pendek, dan berkulit gelap
rambutnya kalau tidak salah cepak satu senti
ia menenteng tas kumal yang entah apa isinya
sudah pukul sepuluh malam tapi masih ada di dalam bis jurusan cimone tangerang
ketika penumpang penuh ia mulai berjalan ke depan
membagikan amplop putih kosong
lalu setelah itu ia mengambil kicrikan dari dalam tasnya
dan mulai berdendang
seperti biasa...
yang terdengar hanya bunyi kicrikannya saja
mungkin karena aku duduk di bangku paling belakang
anak yang hebat
padahal besok ia masih harus pergi ke sekolah
malam ini ia berjuang melawan lelah
demi seratus rupiah
sampai ketemu lagi arif
pada pukul sepuluh malam lagi
Thursday, January 3, 2008
Wednesday, January 2, 2008
Di Sini Di Sana
di sini ada bunyi mesin yang menderu. meraung kesetanan bila melaju kencang. lalu suara AC yang berhembus boros, wooossssshhhh....begitu bunyinya. dan di sana ada penyanyi yang tenggelam suaranya oleh bunyi mesin dan AC. lalu ada gelak tawa anak kecil. mungkin anak yang berjas hujan biru tadi yang naik bersama ibu dan adiknya. orang-orang berdatangan dari bawah. mendadak jadi penuh...
penyanyi pun berganti, walau sama-sama bergitar dan bersuara pas-pasan. di depan ada yang bersalaman dan berbicara dalam deru mesin. akrab sekali ya.
ada gitaris kecil di belakang. mungkinkah ia bisa memainkan gitarnya?. tadi ia menulis sesuatu. apakah menulis lirik?. kini giliran bunyi gemerincing uang receh yang terdengar. si penyanyi itu meminta haknya sedikit saja. sebungkus kantong permen di tebar. ibu-ibu yang duduk berdekatan pun mengobrol dengan tanpa suara sedikitpun. entah benda apa yang di gendongnya itu. bungkusan kain berisi bayi atau...?
Heiii! siapa itu yang mengintip di jendela?. berpakaian hitam-hitam mirip dukun. apakah ia hendak menebarkan mantra-mantranya pada kami?. atau mengutuk tempat ini?. kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti hendak mencari mangsa. matanya melotot tajam. cambangnya mengerikan. untunglah ia turun lagi dan kami tak jadi kena guna-gunanya.
Leman nama penyanyi top itu. Pria setengah baya dengan kemeja kotak-kotak. ramah sekali orangnya. seorang yang tak sombong walau kini ia menjadi artis. ia duduk di samping kiri belakang dan tengah menelepon dengan telepon genggamnya. kaya miskin tak jadi persoalan. yang penting, handphone harus punya. mungkin moto mereka seperti itu. sayang tak punya banyak waktu berbincang dengannya. tiba-tiba saja sudah sampai dan harus turun dari sana.
meninggalkan sekelompok manusia-manusia perasan. korban kekejaman kenyataan. salah satunya telah pergi dan kembali ke rumahnya.
penyanyi pun berganti, walau sama-sama bergitar dan bersuara pas-pasan. di depan ada yang bersalaman dan berbicara dalam deru mesin. akrab sekali ya.
ada gitaris kecil di belakang. mungkinkah ia bisa memainkan gitarnya?. tadi ia menulis sesuatu. apakah menulis lirik?. kini giliran bunyi gemerincing uang receh yang terdengar. si penyanyi itu meminta haknya sedikit saja. sebungkus kantong permen di tebar. ibu-ibu yang duduk berdekatan pun mengobrol dengan tanpa suara sedikitpun. entah benda apa yang di gendongnya itu. bungkusan kain berisi bayi atau...?
Heiii! siapa itu yang mengintip di jendela?. berpakaian hitam-hitam mirip dukun. apakah ia hendak menebarkan mantra-mantranya pada kami?. atau mengutuk tempat ini?. kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti hendak mencari mangsa. matanya melotot tajam. cambangnya mengerikan. untunglah ia turun lagi dan kami tak jadi kena guna-gunanya.
Leman nama penyanyi top itu. Pria setengah baya dengan kemeja kotak-kotak. ramah sekali orangnya. seorang yang tak sombong walau kini ia menjadi artis. ia duduk di samping kiri belakang dan tengah menelepon dengan telepon genggamnya. kaya miskin tak jadi persoalan. yang penting, handphone harus punya. mungkin moto mereka seperti itu. sayang tak punya banyak waktu berbincang dengannya. tiba-tiba saja sudah sampai dan harus turun dari sana.
meninggalkan sekelompok manusia-manusia perasan. korban kekejaman kenyataan. salah satunya telah pergi dan kembali ke rumahnya.
Koma
bayanganmu mulai terengah-engah
ia sekarat
luka parah
ia butuh pertolongan pertama darimu
pikiranku tak sanggup menjaganya lagi
aku tak tahu bagaimana harus merawatnya
harus ku obati dengan apa?
celestamine?
aspirin?
atau amphetamine?
ia sebentar lagi pergi
tolonglah,
buat ia terus hidup
selamatkan dirinya
sudah banyak yang pergi dan tak kembali dari sini
sampai kapan kau ingin terus koma?
bangunlah dan selamatkanlah ia
bangunlah dari sakitmu
bila ia pergi maka
aku akan menjadi perindu sepi lagi
sadarlah!
ia sekarat
luka parah
ia butuh pertolongan pertama darimu
pikiranku tak sanggup menjaganya lagi
aku tak tahu bagaimana harus merawatnya
harus ku obati dengan apa?
celestamine?
aspirin?
atau amphetamine?
ia sebentar lagi pergi
tolonglah,
buat ia terus hidup
selamatkan dirinya
sudah banyak yang pergi dan tak kembali dari sini
sampai kapan kau ingin terus koma?
bangunlah dan selamatkanlah ia
bangunlah dari sakitmu
bila ia pergi maka
aku akan menjadi perindu sepi lagi
sadarlah!
Subscribe to:
Comments (Atom)