Melangkah berat
menuju hamparan
meninggalkan
kampung halaman
Berjalan tegar
menuju waktu
meninggalkan
celoteh kangen
Aku yang di seberang
kan menunggu
kedatanganmu
di bawah rimbun palem
Kan kurindu
saat dulu
kala waktu
sebelum layu
Aku pun harus sendiri
belajar mandiri
berjalan ringkih
ikuti jejakmu
Suatu waktu
kita kan bertemu
kala rindu
datang mengadu
Wednesday, January 31, 2007
Bom Waktu
Kembali ke 4 detik yang lalu
saat lampu masih di nyalakan
jam masih di detakkan
hari masih pagi
Kini pecah menjadi kepingan
bertebaran
yang tak mungkin kembali lagi
kemudian menjadi sesal
sesal
sesal dan
sesal
Selamat tinggal
saat lampu masih di nyalakan
jam masih di detakkan
hari masih pagi
Kini pecah menjadi kepingan
bertebaran
yang tak mungkin kembali lagi
kemudian menjadi sesal
sesal
sesal dan
sesal
Selamat tinggal
Tuesday, January 30, 2007
Bayi (Part 2)
Aku terus bertanya pada diri. Sebenarnya apa yang tengah terjadi padanya. Ia menjawab kalau kini ia tengah di kepung oleh sekelompok bandit. Tiap-tiap bandit itu menodongkan pedangnya yang memiliki warna gagang berbeda dengan yang lainnya. Tiap-tiap ujung pedangnya berada setengah milimeter dari leherku. Aku dapat merasakan kilau tajam pedang-pedang tersebut. Walau ada beberapa yang ku rasa tumpul, bahkan tak bermata sama sekali. Aku dan ia tengah berdiri tegak bagai patung batu yang tak bergerak. Sedikit saja kami bergerak, maka kami akan tertusuk. Sungguh mengerikan. Padahal aku bukanlah siapa-siapa. Baru belajar berdiri di atas bumi ini. Berjalan pun pincang. Lain halnya dengan ia. Ia yang hidup berhias gelimang kehormatan. Ideologi.
Sebuah harta yang tak ternilai. Sebuah gerak pemikiran yang egosentris. Sebuah kehormatan. Yakni harga diri. Menjualnya berarti pelacur. Mengabaikannya berarti terasing. Melupakannya berarti pendusta. Kapal di belakangmu telah kau bakar habis. Di hadapanmu ada sejuta prajurit bersenjata tengah menanti tuk menghabisimu. Mundur berarti mati dalam kehina dinaan dan kesia-siaan. Maju berarti mati terhormat dan penuh makna. Hidup berarti keagungan. Logika telah mati berjalan. Berapa persentase kemampuanmu tuk bernafas?.
Hanya 30% atau 40% saja. Bahkan aku yakin kurang dari itu.
Kacau. Benar-benar kacau.
Haruskah menjadi seorang pelacur atau pendusta?. Jawablah. Aku ingin menjadi keduanya. Bukan karena aku ingin. Tapi aku terlalu takut. Lebih baik hidup lebih lama semenit daripada mati kemarin sore. Itu kah jalanmu?. Jalan setapak yang kaumiliki?. Kau tiba-tiba berbelok di tengah jalan?. Tapi aku tak dapat mencacimu. Karena kau pun sedang maju. Hanya saja jalan kita berbeda. Aku tak tahu. Sampai kapan aku berjalan di jalan ini. Kerikil-kerikil tajam ini terlalu menyakitkan untuk telapak kakiku yang halus. Lalu apa harapanmu setelah mati?. Kau ingin semua orang mengingat akan perjuanganmu?. Jasa-jasamu mungkin?. Gagahnya dirimu mungkin?.Rupawan wajahmu mungkin?. Kau sudah tak bisa kembali lagi.
Penyesalanmu ada di ujung sana. Bergandengan dengan tepuk tangan dan riuh hampa bandit-bandit tersebut. Setelah itu tak ada yang peduli lagi denganmu. Pada akhirnya, kau pun bergelimang kesia-siaan pula. Kenihilan. Lenyap. Di telan cerita.
Tak membanggakan lagi. Kau si angin lalu. lebih baik menanggung malu. Daripada lidah harus kelu. Akhirnya pun mati bisu. Di telan waktu. Lalu menjadi kisah anak kemarin waktu
Oh. Aku ingat. Salah seorang bandit itu pun kini menjadi pelacur. Kenapa aku tidak mengikutinya juga ya?. Tidak. Kau bingung. Apa yang harus kau lakukan?. Lekas tanyakan padanya. Kalau kau bukan dirinya. Begitu juga dirinya bukan dirimu. Aku ingin pergi. Jauh sekali. Aku ingin pergi. Sangat jauh. Aku ingin pergi. Begitu jauh. Aku tak ingin dekati ia. Ia yang membawaku ke jurang negasi identitas.
Sebuah harta yang tak ternilai. Sebuah gerak pemikiran yang egosentris. Sebuah kehormatan. Yakni harga diri. Menjualnya berarti pelacur. Mengabaikannya berarti terasing. Melupakannya berarti pendusta. Kapal di belakangmu telah kau bakar habis. Di hadapanmu ada sejuta prajurit bersenjata tengah menanti tuk menghabisimu. Mundur berarti mati dalam kehina dinaan dan kesia-siaan. Maju berarti mati terhormat dan penuh makna. Hidup berarti keagungan. Logika telah mati berjalan. Berapa persentase kemampuanmu tuk bernafas?.
Hanya 30% atau 40% saja. Bahkan aku yakin kurang dari itu.
Kacau. Benar-benar kacau.
Haruskah menjadi seorang pelacur atau pendusta?. Jawablah. Aku ingin menjadi keduanya. Bukan karena aku ingin. Tapi aku terlalu takut. Lebih baik hidup lebih lama semenit daripada mati kemarin sore. Itu kah jalanmu?. Jalan setapak yang kaumiliki?. Kau tiba-tiba berbelok di tengah jalan?. Tapi aku tak dapat mencacimu. Karena kau pun sedang maju. Hanya saja jalan kita berbeda. Aku tak tahu. Sampai kapan aku berjalan di jalan ini. Kerikil-kerikil tajam ini terlalu menyakitkan untuk telapak kakiku yang halus. Lalu apa harapanmu setelah mati?. Kau ingin semua orang mengingat akan perjuanganmu?. Jasa-jasamu mungkin?. Gagahnya dirimu mungkin?.Rupawan wajahmu mungkin?. Kau sudah tak bisa kembali lagi.
Penyesalanmu ada di ujung sana. Bergandengan dengan tepuk tangan dan riuh hampa bandit-bandit tersebut. Setelah itu tak ada yang peduli lagi denganmu. Pada akhirnya, kau pun bergelimang kesia-siaan pula. Kenihilan. Lenyap. Di telan cerita.
Tak membanggakan lagi. Kau si angin lalu. lebih baik menanggung malu. Daripada lidah harus kelu. Akhirnya pun mati bisu. Di telan waktu. Lalu menjadi kisah anak kemarin waktu
Oh. Aku ingat. Salah seorang bandit itu pun kini menjadi pelacur. Kenapa aku tidak mengikutinya juga ya?. Tidak. Kau bingung. Apa yang harus kau lakukan?. Lekas tanyakan padanya. Kalau kau bukan dirinya. Begitu juga dirinya bukan dirimu. Aku ingin pergi. Jauh sekali. Aku ingin pergi. Sangat jauh. Aku ingin pergi. Begitu jauh. Aku tak ingin dekati ia. Ia yang membawaku ke jurang negasi identitas.
Bayi
Menjadi debu di atas batu, aku berjalan dengan kedua kaki tanpa alas. Dengan kedua mata sebagai penuntun. Dengan telinga sebagai pemberi informasi. Dengan tangan sebagai penindak. Dan hati sebagai pemandu. Aku tegar.
Jejak-jejak di sebuah gurun adalah kakiku. Jalan setapak di sebuah gang adalah mataku. Ranting-ranting kecil adalah tanganku.
Dan dedaunan yang jatuh seminggu yang lalu itu adalah hatiku. Ya. Yang mana?. Itu. Yang tergolek di tengah jalan raya.
Kemarin aku berdiri dengan entitas berupa kertas yang hangus terbakar. Hari ini aku menjadi asapnya yang membubung di langit-langit sebuah rumah. Esoknya mungkin aku akan menghilang dengan sendirinya. Mungkin aku sebuah tembakau pada awalnya. Yang di bakar bersama selembar kertas tergulung. Lalu menjadi asapnya yang kian lama menghilang lima atau sepuluh senti di atas kepala. Dimana sebelumnya terselip di sela basah bibir seseorang yang menghisap dan menghembuskannya berkali-kali. Lalu entitasku berubah menjadi sebatang kembang api kering. Yang di nyalakan dengan api. Lalu terbakar indah dan mati. Tiba-tiba pula entitasku berubah menjadi air yang tumpah. Lalu menggenang dan merembes melalui kapiler-kapiler karpet. Dan lenyap. Sedikit berbau.
Aku sempat terbakar. Aku sempat memercik. Aku dinyalakan. Aku tersentuh. Tapi bukan aku yang membakar. Dan bukan aku pula yang menyentuh.
Lalu siapa?. Tak tahu. Aku tak tahu. Aku sungguh tak tahu. Tidak. Kau tahu. Aku tahu. Itu dia. Dan mereka. Dan Kamu. Dan teman-temanmu mungkin. Dan adik-adikmu juga. Dan...dan..dan... Jancuk!. Kamu siapa sebenarnya?. Aku tersiksa. Aku tergilas. Aku tergerus. Aku terlecehkan. Aku terlacurkan. Aku teranjingkan. Aku terbudakkan. Aku tergilakan. Aku tertertenakkan. Aku terhimpit. Aku...aku...aku...
Sayang....
Aku terhormatkan. Aku merasa terhormatkan. Tahukah kau?. Aku tak rela menjadi seekor anjing kudis dengan seluruh kutu di tubuhnya. Aku lebih rela menjadi seekor anjing ras yang tengah menjilati kaki tuannya. Aku ingin bulu yang indah. Tersisir rapi dan wangi. Aku tak terpuaskan oleh diriku.
Tapi aku terbahagiakan oleh dirimu. Atau lebih tepatnya menjadi dirimu. Aku dirimu dan aku. Tolong. Berikan aku sebuah nama. Dan pakaikan aku sebuah kalung yang cantik.
Tambatkan taliku di manapun kau suka. Kini aku wangi, sayang. Kulihat dedaunan yang telah menguning di hadapanku. Tengah terbawa angin yang berhembus pelan. Terus terbawa.
Pelan. Pelan sekali. Seakan menari mengikuti angin. Cantik. Nampak cantik. Sempat menerpa wajahku sejenak sebelum akhirnya hancur di bawah hujaman langkah sepatu pantofel seseorang.
Aku tertawa terbahak-bahak. Menertawakan diriku dan permainannya. Sungguh mati aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku sakit. Ku ucap lirih di dada. Aku merdeka.
Ku ucap lantang di dunia. Aku merdeka.
Jejak-jejak di sebuah gurun adalah kakiku. Jalan setapak di sebuah gang adalah mataku. Ranting-ranting kecil adalah tanganku.
Dan dedaunan yang jatuh seminggu yang lalu itu adalah hatiku. Ya. Yang mana?. Itu. Yang tergolek di tengah jalan raya.
Kemarin aku berdiri dengan entitas berupa kertas yang hangus terbakar. Hari ini aku menjadi asapnya yang membubung di langit-langit sebuah rumah. Esoknya mungkin aku akan menghilang dengan sendirinya. Mungkin aku sebuah tembakau pada awalnya. Yang di bakar bersama selembar kertas tergulung. Lalu menjadi asapnya yang kian lama menghilang lima atau sepuluh senti di atas kepala. Dimana sebelumnya terselip di sela basah bibir seseorang yang menghisap dan menghembuskannya berkali-kali. Lalu entitasku berubah menjadi sebatang kembang api kering. Yang di nyalakan dengan api. Lalu terbakar indah dan mati. Tiba-tiba pula entitasku berubah menjadi air yang tumpah. Lalu menggenang dan merembes melalui kapiler-kapiler karpet. Dan lenyap. Sedikit berbau.
Aku sempat terbakar. Aku sempat memercik. Aku dinyalakan. Aku tersentuh. Tapi bukan aku yang membakar. Dan bukan aku pula yang menyentuh.
Lalu siapa?. Tak tahu. Aku tak tahu. Aku sungguh tak tahu. Tidak. Kau tahu. Aku tahu. Itu dia. Dan mereka. Dan Kamu. Dan teman-temanmu mungkin. Dan adik-adikmu juga. Dan...dan..dan... Jancuk!. Kamu siapa sebenarnya?. Aku tersiksa. Aku tergilas. Aku tergerus. Aku terlecehkan. Aku terlacurkan. Aku teranjingkan. Aku terbudakkan. Aku tergilakan. Aku tertertenakkan. Aku terhimpit. Aku...aku...aku...
Sayang....
Aku terhormatkan. Aku merasa terhormatkan. Tahukah kau?. Aku tak rela menjadi seekor anjing kudis dengan seluruh kutu di tubuhnya. Aku lebih rela menjadi seekor anjing ras yang tengah menjilati kaki tuannya. Aku ingin bulu yang indah. Tersisir rapi dan wangi. Aku tak terpuaskan oleh diriku.
Tapi aku terbahagiakan oleh dirimu. Atau lebih tepatnya menjadi dirimu. Aku dirimu dan aku. Tolong. Berikan aku sebuah nama. Dan pakaikan aku sebuah kalung yang cantik.
Tambatkan taliku di manapun kau suka. Kini aku wangi, sayang. Kulihat dedaunan yang telah menguning di hadapanku. Tengah terbawa angin yang berhembus pelan. Terus terbawa.
Pelan. Pelan sekali. Seakan menari mengikuti angin. Cantik. Nampak cantik. Sempat menerpa wajahku sejenak sebelum akhirnya hancur di bawah hujaman langkah sepatu pantofel seseorang.
Aku tertawa terbahak-bahak. Menertawakan diriku dan permainannya. Sungguh mati aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku sakit. Ku ucap lirih di dada. Aku merdeka.
Ku ucap lantang di dunia. Aku merdeka.
Tuesday, January 23, 2007
Sinyo dan Nonik
Di hari Senin ada sepasang bocah laki-laki dan perempuan yang tengah memetik bunga di halaman sambil membawa keranjang 'tuk menyimpan bunga-bunga yang mereka sukai.Terlihat bunga kecil yang berwarna merah, yang bila di patahkan tangkai kecilnya akan keluar madu manis yang dapat di hisap. Bertangkai-tangkai mereka hisap habis madunya. Terkadang Mereka selipkan bunga berwarna putih pucat di telinga masing-masing. Selama tiga atau empat hari mereka memetik bunga di setiap pagi dan sore. Bercakap akrab seperti sepasang kekasih yang sedang beradu canda, nostalgia di kebun bunga
Hari kamis si bocah perempuan mengajak si bocah lelaki makan mie di halaman depan. Si bocah lelaki pun berkenan. Namun saat hari itu tiba, si bocah lelaki melupakan semuanya. Hari itu berlalu hampa, tanpa ada acara makan mie bersama, dan juga memetik bunga. Setelah itu tak tahu lagi apa yang terjadi. Setelah kurang lebih 13 tahun berlalu, si bocah lelaki tengah mengutarakan rindunya dalam sebuah sajak yang di tulisnya.
"Mayang, ini aku, kumbang yang pernah pergi meninggalkanmu
wahai kembang
aku teringat
akan rumahmu di sebelah rumahku
pintu yang menghubungkan rumah kita dan rumahmu
hari itu hati kita bertautan
tak kusangka aku melepaskan tautan hatiku padamu
aku tak pernah tahu
pada engkau yang mungkin telah menunggu lama di halaman depan rumahmu
aku tak pernah berani
melihat apa yang terjadi setelah itu
mungkin engkau menangis
kecewa pada seorang bocah kecil yang cengeng
yang berani ingkar janji 'tuk yang pertama kalinya
pada dambaan hatinya"
Hari kamis si bocah perempuan mengajak si bocah lelaki makan mie di halaman depan. Si bocah lelaki pun berkenan. Namun saat hari itu tiba, si bocah lelaki melupakan semuanya. Hari itu berlalu hampa, tanpa ada acara makan mie bersama, dan juga memetik bunga. Setelah itu tak tahu lagi apa yang terjadi. Setelah kurang lebih 13 tahun berlalu, si bocah lelaki tengah mengutarakan rindunya dalam sebuah sajak yang di tulisnya.
"Mayang, ini aku, kumbang yang pernah pergi meninggalkanmu
wahai kembang
aku teringat
akan rumahmu di sebelah rumahku
pintu yang menghubungkan rumah kita dan rumahmu
hari itu hati kita bertautan
tak kusangka aku melepaskan tautan hatiku padamu
aku tak pernah tahu
pada engkau yang mungkin telah menunggu lama di halaman depan rumahmu
aku tak pernah berani
melihat apa yang terjadi setelah itu
mungkin engkau menangis
kecewa pada seorang bocah kecil yang cengeng
yang berani ingkar janji 'tuk yang pertama kalinya
pada dambaan hatinya"
Mungkin Sekitar 20 Derajat Celcius
Menggigil dingin
dingin sekali...
di luar hujan
tidak terlalu lebat...
semilir udara AC semakin menusuk
tulang-tulang tubuhku...
di luar jendela yang tertutup kain gorden
terdengar tetesan-tetesan penghabisan hujan...
masih terasa dingin
dingin sekali...
seperti seonggok daging
yang di simpan dalam kulkas...
dingin sekali
hampir membeku...
kemana pun melangkah
selalu dingin...
dingin ini
dingin jiwa ini...
dingin jiwa ini
bekunya api di dalam tubuh...
celcius
celcius...
berapa fahrenheit kah
celcius ini...
dingin
sungguh dingin...
dingin yang membunuh
dingin nya dingin...
dingin - dingin
sungguh dingin....
dingin sekali...
di luar hujan
tidak terlalu lebat...
semilir udara AC semakin menusuk
tulang-tulang tubuhku...
di luar jendela yang tertutup kain gorden
terdengar tetesan-tetesan penghabisan hujan...
masih terasa dingin
dingin sekali...
seperti seonggok daging
yang di simpan dalam kulkas...
dingin sekali
hampir membeku...
kemana pun melangkah
selalu dingin...
dingin ini
dingin jiwa ini...
dingin jiwa ini
bekunya api di dalam tubuh...
celcius
celcius...
berapa fahrenheit kah
celcius ini...
dingin
sungguh dingin...
dingin yang membunuh
dingin nya dingin...
dingin - dingin
sungguh dingin....
Pahlawan
Dalam ricuhnya dunia
kegamangan jiwa pun muncul
menghadap ke timur
berjalan ke arah bintang panduan
Kabut datang
timur tiada lagi terang
di tenggara ada dua sinar yang menyala
kaki-kaki kecilmu itu melangkah kepadanya
Pada akhirnya tersapu oleh esok
tiada nyata lagi
awan berkumpul di selatan
memberi fatamorgana naungan yang sejuk
Tapi sekumpulan uap air tersebut memuntahkan dirinya
lenyap bagai pasir di atas batu licin yang tertiup angin
mungkin mentari bersedia menjadi panduku
tapi malam datang tak di undang menenggelamkannya
Berdiri tegak di atas mercusuar tua
sendirian di tengah sepi yang menyambut
melolong sekeras-kerasnya bagai anjing sakit
hamparan merata di depan mata menyahut
Sudah saatnya
untuk berjalan sendiri
menentukan arah langkah
menjadi pandu diri
kegamangan jiwa pun muncul
menghadap ke timur
berjalan ke arah bintang panduan
Kabut datang
timur tiada lagi terang
di tenggara ada dua sinar yang menyala
kaki-kaki kecilmu itu melangkah kepadanya
Pada akhirnya tersapu oleh esok
tiada nyata lagi
awan berkumpul di selatan
memberi fatamorgana naungan yang sejuk
Tapi sekumpulan uap air tersebut memuntahkan dirinya
lenyap bagai pasir di atas batu licin yang tertiup angin
mungkin mentari bersedia menjadi panduku
tapi malam datang tak di undang menenggelamkannya
Berdiri tegak di atas mercusuar tua
sendirian di tengah sepi yang menyambut
melolong sekeras-kerasnya bagai anjing sakit
hamparan merata di depan mata menyahut
Sudah saatnya
untuk berjalan sendiri
menentukan arah langkah
menjadi pandu diri
Subscribe to:
Comments (Atom)