Duhai kembang yang sedang mekar
wangi benar dirimu dan mahkotamu
tangkaimu berdiri tinggi semampai
merayu kumbang dan kupu-kupu yang tengah melintas
Duhai kembang yang sedang mekar
baru sejenak dikau berdiri sendiri
seekor kumbang hinggap di mahkotamu
menghisap habis madumu
Duhai kembang yang sedang mekar
belum lama si kumbang pergi
datang seekor kupu-kupu hinggap di mahkotamu
menghisap habis madumu
Duhai kembang yang sedang mekar
telah habis madumu di hisap mereka
tangkaimu lemas terkulai
tiada lagi yang hinggap di mahkotamu
Duhai kembang yang sedang mekar
tinggal sedikit waktu untukmu sebelum mati
berikan satu persatu mahkotamu pada ulat dan belatung di dalam tanah
pergilah dengan tenang
Tuesday, February 27, 2007
Sunday, February 25, 2007
Di Bawah Fajar
Ini antara waktu yang berbicara. Bukan antara kutu. Di rentang ini pula segelas susu coklat hangat menemani dalam remang suasana fajar. Sekat berjendela kaca yang memanjang membatasi antara lantai dan taman biru. Pukul setengah lima mengatakan saatnya lari pagi. Dari Jalan pahlawan berkumis sampai dengan alun-alun. Sepulangnya si Adik kecil terjatuh di jalan. Memeriksa lututnya apakah luka?.
"Pintar! tidak menangis", kata Mama
Mama pula yang berkata dirinya pernah memungut kotoran bintang. Katanya bercahaya terang. Adik kecil melihatnya. Bahkan memegangnya. Maka itu, menatap genteng-genteng rumah orang di sepanjang jalan adalah wajib hukumnya. Tapi hanya sebentar saja cahayanya. Selanjutnya Adik kecil dan Mama tidak pernah menemukannya lagi. Bagaimana mungkin bintang buang hajat?.
Langit sudah sedikit terang. Pukul setengah enam menjawab waktu yang telah hadir. Sepiring kecil roti yang di potong kecil-kecil berisi mentega gula, mentega mesis, dan susu di hidangkan. Kulitnya kering, jadinya selalu tersisa. Si Adik kecil makan dengan lahap. Tak menyisakan kulitnya sedikitpun.
Lampu-lampu belum di nyalakan. Masih terasa sedikit gelap. Ada Mama, Kakak, dan Adik di dalamnya. Lampu besar dan panjang di atap yang menjuntai ke bawah hampir tidak pernah di gunakan lagi. Televisi pun masih membisu.
Lalu Kakek berpeci hitam singgah ke rumah dengan bersepeda seperti biasanya. Secangkir kopi hitam dan koran menjadi teman setiap pagi. Dan bertualang lagi ketika pukul tujuh telah tiba kembali. Dayang-dayang yang cantik jelita mulai menari mengikuti alunan waktu. Lalu ada secangkir telur setengah matang yang di campur sedikit garam dan sedikit merica yang disukai. Setelah itu bertemu kembali dengan kawan-kawan kecil yang tak dapat berbicara. Hari ini mungkin temanya tentang pertarungan yang menentukan di tebing. Di bumbui sedikit adegan percintaan bisa menjadi lebih menarik. Begitulah fajar yang berputar. Yang selalu enggan mengembalikan apa yang telah di pinjamnya. Semuanya hanya sedikit tentang kisah si waktu. Yang kan terus terurai sampai akhir zaman.
"Pintar! tidak menangis", kata Mama
Mama pula yang berkata dirinya pernah memungut kotoran bintang. Katanya bercahaya terang. Adik kecil melihatnya. Bahkan memegangnya. Maka itu, menatap genteng-genteng rumah orang di sepanjang jalan adalah wajib hukumnya. Tapi hanya sebentar saja cahayanya. Selanjutnya Adik kecil dan Mama tidak pernah menemukannya lagi. Bagaimana mungkin bintang buang hajat?.
Langit sudah sedikit terang. Pukul setengah enam menjawab waktu yang telah hadir. Sepiring kecil roti yang di potong kecil-kecil berisi mentega gula, mentega mesis, dan susu di hidangkan. Kulitnya kering, jadinya selalu tersisa. Si Adik kecil makan dengan lahap. Tak menyisakan kulitnya sedikitpun.
Lampu-lampu belum di nyalakan. Masih terasa sedikit gelap. Ada Mama, Kakak, dan Adik di dalamnya. Lampu besar dan panjang di atap yang menjuntai ke bawah hampir tidak pernah di gunakan lagi. Televisi pun masih membisu.
Lalu Kakek berpeci hitam singgah ke rumah dengan bersepeda seperti biasanya. Secangkir kopi hitam dan koran menjadi teman setiap pagi. Dan bertualang lagi ketika pukul tujuh telah tiba kembali. Dayang-dayang yang cantik jelita mulai menari mengikuti alunan waktu. Lalu ada secangkir telur setengah matang yang di campur sedikit garam dan sedikit merica yang disukai. Setelah itu bertemu kembali dengan kawan-kawan kecil yang tak dapat berbicara. Hari ini mungkin temanya tentang pertarungan yang menentukan di tebing. Di bumbui sedikit adegan percintaan bisa menjadi lebih menarik. Begitulah fajar yang berputar. Yang selalu enggan mengembalikan apa yang telah di pinjamnya. Semuanya hanya sedikit tentang kisah si waktu. Yang kan terus terurai sampai akhir zaman.
Saturday, February 24, 2007
Sobari
Kenapa harus Tuan Sobari yang di goda
Sedang ia tak mau di goda
Lihat Tuan Sobari berkelit
Dengan tubuh hanya di balut kolor
Kasihan beliau yang ada di pinggir trotoar
Untunglah dia cepat-cepat menghilang
Dia sedang telanjang
Sedang ia tak mau di goda
Lihat Tuan Sobari berkelit
Dengan tubuh hanya di balut kolor
Kasihan beliau yang ada di pinggir trotoar
Untunglah dia cepat-cepat menghilang
Dia sedang telanjang
Tertidur Lima Detik
Penghapus karet berwarna biru yang biasa kugunakan hari ini entah hilang kemana. Lupa terbawa atau terjatuh di mana. Pilot hitamku melejit cepat torehkan isinya ke atas kertas putih yang bersih. Tinta cina di sebelahnya sengaja kusenggol biar tumpah di atasnya. Tapi Pilot hitamku tak hentinya melukis sekumpulan awan gelap. Lalu membuat cerita tentang sekawanan semut hitam yang tengah berbaris gembira di taman sedang kuinjak-injak sampai mati. Hingga pupus harapan mereka tuk menikmati butir-butir gula yang mereka angkut. Aku dan sepatu baruku yang melenyapkannya. Seperti rayap. Ialah seekor rayap yang merobohkan setangkai bunga yang sedang mekar di bawah cahaya matahari. Bukan seorang manusia. Ialah seekor rayap yang meruntuhkan bangunan-bangunan kokoh di seluruh negeri. Bukan pula seorang manusia. Hanya saja rayap tak pernah melihat. Tentulah ia tak dapat melihat bangunan atau benda mana yang sedang di hancurkannya. Oleh karena itu aku ingin penghapus karet berwarna biruku kembali. Kertas putih yang bersih tadi kini tak bisa lagi di bilang bersih. Aku capai. Mungkin jika waktu kembali muda lagi, aku ingin santai-santai saja.
Gadis Seksi
Ingin kupegang susumu
di balik ketat bajumu
tatkala kumelihat wajahmu
yang tengah bersemu-semu
Ingin kuelus bokongmu
di balik ketat spandexmu
terlihat jeplakan dalemanmu
apa itu?
yaitu celana dalammu
di balik ketat bajumu
tatkala kumelihat wajahmu
yang tengah bersemu-semu
Ingin kuelus bokongmu
di balik ketat spandexmu
terlihat jeplakan dalemanmu
apa itu?
yaitu celana dalammu
Sunday, February 18, 2007
Hierarki (Sub-Lowo)
Aku pangeran
Pedang yang terhunus di tangan kananku
Ujungnya yang tumpul nanti akan kuasah
Hingga tajam berkilau
Untuk menusuk tubuhmu
Mematahkan tulang-tulang tuamu
Oh engkau yang malang
Pagi mu, Siang mu, dan soremu hanya menjadi sebuah kisah saja
Kelelawar malam
Sebaiknya kau kembali saja pada malammu
Aku memujimu
Pedang yang terhunus di tangan kananku
Ujungnya yang tumpul nanti akan kuasah
Hingga tajam berkilau
Untuk menusuk tubuhmu
Mematahkan tulang-tulang tuamu
Oh engkau yang malang
Pagi mu, Siang mu, dan soremu hanya menjadi sebuah kisah saja
Kelelawar malam
Sebaiknya kau kembali saja pada malammu
Aku memujimu
Subscribe to:
Comments (Atom)