Terlihat kerumunan manusia berkumpul di tengah lapangan di mana di sekitarnya berdiri tegap gedung-gedung pencakar langit. Kerumunan tersebut begitu padat membentuk lingkaran. mereka tengah menyaksikan sesuatu. Baik tua maupun muda berdesak-desakan, berhimpit-himpitan, saling sikut, dan saling jinjit hanya untuk melihat yang tengah terjadi di sore itu. Anak-anak kecil dengan gesitnya menembus kerumunan tersebut melalui sela-sela kaki dan pinggang orang-orang dewasa hingga bukan mustahil pada akhirnya para anak kecil ini menjadi berdiri yang paling depan. Suatu pemandangan yang langka terjadi di metropolitan. Tidak sedikit pula kendaraan-kendaraan bermotor yang menepi sekedar melihat dari jauh apa yang tengah terjadi atau berhenti dan turun langsung untuk melihat di tengah lapangan tersebut. Pepohonan yang ada di sekitar pun harus rela dahan-dahannya di penuhi manusia. Begitu juga halnya dengan tiang-tiang listrik. Langit semakin merah. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Pemandangan yang terjadi saat itu begitu mengesankan bagi semua orang yang melihatnya.
Seorang bocah tengah mengoyak jantungnya sendiri dengan taring-taring tajam miliknya. Darah segar memuncrat saat gigitan pertamanya merobek merahnya nyawa kehidupannya sendiri. Percikan-percikan darah dari seonggok daging tersebut menghiasi sekitar mulutnya. Amis bukan kepalang baunya. Tapi bukan soal baginya. Orang-orang melihatnya seperti sebuah ritual khusus yang di lakukan bocah tersebut. Mereka mulai menggunjing. Menganggap bocah tersebut tidak lagi waras atau gila. Sedikit lagi seonggok daging yang ada di genggaman bocah tersebut habis di lahapnya. Sesekali dia tersedak saat menelannya karena terburu-buru. Ia sama sekali tak menghiraukan keadaan sekitarnya. Secara tak sadar ia telah menjadikan dirinya menjadi sebuah tontonan yang menarik. Lebih menarik dari atraksi debus yang begitu-begitu saja. Ini spektakuler!.
Tak sedikit dari mereka yang muntah di tempat lalu segera beranjak pergi. Kerumunan bukannya semakin sedikit tapi malah semakin banyak. Seakan mengalir tanpa henti bagai air yang mengalir. Ada yang setia dari Ashar tadi menyaksikan yang di lakukan bocah tersebut. Ada pula yang datang sekedar untuk melihat apa yang terjadi lalu pergi lagi. Datang pula pemuka-pemuka agama setempat untuk melihat apa yang terjadi. Mereka haya bisa mengurut dada dan terus beristighfar. Tak ada yang berani untuk menghentikannya.
Sungguh aneh. Onggokan daging di tangan bocah tersebut itu apa benar jantungnya?. Sudah hampir tiga jam dia mengunyahnya tanpa henti. Tapi dada sebelah kirinya berlubang. Darah pekat terus-terusan mengalir tanpa henti. Bocah itu tak juga lemas. Di sebelah kakinya tergolek sebilah pisau dapur penuh darah. Nampaknya dengan pisau itulah ia menyayat dadanya lalu mengambil jantungnya sendiri. Semakin aneh. Jantung tersebut walaupun terlepas dari jasad si bocah tersebut namun tetap berdegup tanpa henti. Mengapa ia tidak mati?. Malahan bocah itu memakannya seperti kesetanan. Memakan sesuatu yang tak ada habis-habisnya. Lihatlah ia!. Makan dengan lahap di iringi adzan Maghrib yang tengah berkumandang.
Langit semakin gelap. Kerumunan semakin padat. Bahkan jalanan sudah menjadi tempat parkir bagi kendaraan bermotor. Semua orang turun ke jalan untuk menyaksikan kejadian di tanah lapang tersebut. Polisi pun sudah berdatangan sejak tadi. Namun sama seperti para pemuka agama tadi. Mereka hanya bisa menatapnya. Mereka tak dapat menghentikannya. Bukan karena mereka tak mau. Tapi tubuh mereka seakan beku tak dapat bergerak sedikitpun di dekatnya. Para wartawan pun mulai berdatangan meliput bocah yang masih asyik dengan santapannya itu. Malam itu siaran televisi di seluruh penjuru negeri menjadi sebuah liputan khusus atraksi bocah pemakan jantungnya sendiri. Suatu peristiwa abad ini!.
Apa sebenarnya yang ada di kepalanya?. Kejadian apakah yang baru saja menimpanya?. Apakah ia sedang kerasukan?. Tak henti-hentinya pertanyaan demi pertanyaan tersebut mengalir deras di kerumunan penonton. Namun mereka hanya bisa mengangkat bahu. Lalu beberapa menit kemudian pertanyaan-pertanyaan yang sama berulang lagi. Dan lagi-lagi mereka semuanya hanya bisa mengangkat bahunya masing-masing. Mengapa tidak ada yang mau mendekat?. Mengapa tidak ada yang mau menyelamatkannya?. Apa yang terjadi bila ia menghabiskan jantungnya?. Apakah ia akan benar-benar mati?. Ataukah ia masih hidup dan mengeluarkan isi tubuhnya yang lain?. Paru-parunya misalnya?. Mereka yang melihatnya sama sekali tidak mengerti. Jantung yang tinggal seperempat itu, apakah masih berfungsi apabila di letakkan kembali ke tempat asalnya?.
"Lakukan! Lakukan!". Bocah tersebut menatap tajam ke sekelilingnya. Ia memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya. "Lakukan! Lakukan!", suaranya lantang. Ia membelalakkan matanya, seakan mau keluar. Tangannya yang berlumur darah menunjuk ke arah orang-orang di sekitarnya. "Lakukan! Lakukan!". Mereka yang berdiri di dekat bocah tersebut mulai sedikit ngeri dan mundur perlahan. "Cepat lakukan!". Mereka yang menonton hanya terbengong-bengong. Tak tahu mengapa ia menyuruh mereka melakukan hal yang sama dengannya. Bocah itu berdiri perlahan, jantungnya belum habis di lahapnya. "Lakukan!". Sekali lagi ia menyuruh mereka untuk berbuat seperti dirinya.
Mereka yang menonton mulai ketakutan. tak terkecuali para polisi, wartawan, dan pemuka agama. Mereka mundur perlahan-lahan. Setiap kali bocah tersebut berteriak, pasti dari mulutnya memercikkan darah. "Lakukan! Cepat!".
Saat itu, ada seorang pria setengah baya keluar dari kerumunan dan mendekat ke arah bocah tersebut. Ia berjalan perlahan ke arahnya. Sedikit takut dan ragu-ragu. Tubuhnya sedikit gemetar. Bocah tersebut nampak senang melihatnya. Lalu ia meraih pisau yang tergolek di tanah dan memberikannya pada salah pria tersebut. "Ini! Ambillah!".
Tangan pria itu meraih pisau yang di berikan oleh si bocah. Setelah pisau ada di genggamannya, tak di sangka ia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan bocah itu. Ia menusuk dadanya sendiri. Menyayat-nyayat. Lalu merobeknya hingga membuat lubang yang ternganga di dada kirinya. Ia menjerit keras. Penonton seakan tak percaya pria setengah baya tersebut akan melakukan hal gila tersebut.
Lalu dari lubang di dada kiri pria tersebut nampak sebuah daging yang gemuk dan merah. Daging tersebut berdegup. Itu jantungnya.
Lalu ia segera meraih jantungnya dengan tangan kanannya. Dan menariknya kencang-kencang hingga terlepas. Di makannya jantung tersebut. Sama seperti bocah itu. Pria setengah baya tersebut mengikuti apa yang di perintahkan oleh bocah itu. Ia makan dengan lahap. Mulutnya berlumur darah. Ia mengoyaknya tanpa henti. Ia tampak menikmatinya. Memakannya sambil duduk bersila di temani bocah itu.
Mereka yang menonton terheran-heran. Apakah seenak itu jantung kita?. Tak lama kemudian salah seorang lagi mendekati kedua pemakan jantung tersebut dan melakukan hal yang sama seperti mereka. Satu persatu dari mereka pun turut mencobanya. Seorang. Dua orang. Tiga orang. Empat orang. Dan seterusnya. Ada sekitar dua ratus ribu manusia yang mengelilingi mereka. Sedikit demi sedikit mereka tidak lagi menjadi penonton penyantap jantung sendiri itu. Melainkan mereka pun turut mencobanya. Tak terkecuali pula para polisi, wartawan, pemuka-pemuka agama, bahkan anak-anak kecil. Nikmat sekali. Di bawah terang bulan purnama sambil menyantap jantung sendiri. Suatu pengalaman yang tak akan terlupakan. Bersama dua ratus ribu orang di sini. Menggelar pesta rakyat dadakan. Mungkin mereka yang di rumah masing-masing pun kini tengah mencobanya. Menu makan malam hari bersama keluarga adalah jantung sendiri. Bagaimana kalau di goreng?. Di panggang mungkin?. Apakah akan sama enaknya dengan memakan mentah?. Semua harus mencobanya. Seluruh manusia di dunia harus mencobanya.
Wednesday, February 28, 2007
Tuesday, February 27, 2007
Komando Abad 20
Titik-titik dalam lingkaran mulai bergerak
ratusan ribu bahkan jutaan titik yang tersebar
mengusung tinggi-tinggi papan sub lingkarannya masing-masing
sedang sang kaisar tengah termangu di kursi besarnya
Titik-titik dalam lingkaran siap melumat enam juta titik lainnya
andaikata mereka bergerak pada arah yang sama
maka tiada lagi titik-titik yang terpencar
melainkan menjadi gumpalan raksasa yang berwarna hitam
Di lain tempat barisan panjang pasukan merah melakukan long march
di bawah komando Paman Berwajah Ramah yang telah almarhum
para aristokrat di seberang tersenyum sinis menatap mereka
sebentar lagi dunia bergolak
ratusan ribu bahkan jutaan titik yang tersebar
mengusung tinggi-tinggi papan sub lingkarannya masing-masing
sedang sang kaisar tengah termangu di kursi besarnya
Titik-titik dalam lingkaran siap melumat enam juta titik lainnya
andaikata mereka bergerak pada arah yang sama
maka tiada lagi titik-titik yang terpencar
melainkan menjadi gumpalan raksasa yang berwarna hitam
Di lain tempat barisan panjang pasukan merah melakukan long march
di bawah komando Paman Berwajah Ramah yang telah almarhum
para aristokrat di seberang tersenyum sinis menatap mereka
sebentar lagi dunia bergolak
Kembang Mawar
Duhai kembang yang sedang mekar
wangi benar dirimu dan mahkotamu
tangkaimu berdiri tinggi semampai
merayu kumbang dan kupu-kupu yang tengah melintas
Duhai kembang yang sedang mekar
baru sejenak dikau berdiri sendiri
seekor kumbang hinggap di mahkotamu
menghisap habis madumu
Duhai kembang yang sedang mekar
belum lama si kumbang pergi
datang seekor kupu-kupu hinggap di mahkotamu
menghisap habis madumu
Duhai kembang yang sedang mekar
telah habis madumu di hisap mereka
tangkaimu lemas terkulai
tiada lagi yang hinggap di mahkotamu
Duhai kembang yang sedang mekar
tinggal sedikit waktu untukmu sebelum mati
berikan satu persatu mahkotamu pada ulat dan belatung di dalam tanah
pergilah dengan tenang
wangi benar dirimu dan mahkotamu
tangkaimu berdiri tinggi semampai
merayu kumbang dan kupu-kupu yang tengah melintas
Duhai kembang yang sedang mekar
baru sejenak dikau berdiri sendiri
seekor kumbang hinggap di mahkotamu
menghisap habis madumu
Duhai kembang yang sedang mekar
belum lama si kumbang pergi
datang seekor kupu-kupu hinggap di mahkotamu
menghisap habis madumu
Duhai kembang yang sedang mekar
telah habis madumu di hisap mereka
tangkaimu lemas terkulai
tiada lagi yang hinggap di mahkotamu
Duhai kembang yang sedang mekar
tinggal sedikit waktu untukmu sebelum mati
berikan satu persatu mahkotamu pada ulat dan belatung di dalam tanah
pergilah dengan tenang
Sunday, February 25, 2007
Di Bawah Fajar
Ini antara waktu yang berbicara. Bukan antara kutu. Di rentang ini pula segelas susu coklat hangat menemani dalam remang suasana fajar. Sekat berjendela kaca yang memanjang membatasi antara lantai dan taman biru. Pukul setengah lima mengatakan saatnya lari pagi. Dari Jalan pahlawan berkumis sampai dengan alun-alun. Sepulangnya si Adik kecil terjatuh di jalan. Memeriksa lututnya apakah luka?.
"Pintar! tidak menangis", kata Mama
Mama pula yang berkata dirinya pernah memungut kotoran bintang. Katanya bercahaya terang. Adik kecil melihatnya. Bahkan memegangnya. Maka itu, menatap genteng-genteng rumah orang di sepanjang jalan adalah wajib hukumnya. Tapi hanya sebentar saja cahayanya. Selanjutnya Adik kecil dan Mama tidak pernah menemukannya lagi. Bagaimana mungkin bintang buang hajat?.
Langit sudah sedikit terang. Pukul setengah enam menjawab waktu yang telah hadir. Sepiring kecil roti yang di potong kecil-kecil berisi mentega gula, mentega mesis, dan susu di hidangkan. Kulitnya kering, jadinya selalu tersisa. Si Adik kecil makan dengan lahap. Tak menyisakan kulitnya sedikitpun.
Lampu-lampu belum di nyalakan. Masih terasa sedikit gelap. Ada Mama, Kakak, dan Adik di dalamnya. Lampu besar dan panjang di atap yang menjuntai ke bawah hampir tidak pernah di gunakan lagi. Televisi pun masih membisu.
Lalu Kakek berpeci hitam singgah ke rumah dengan bersepeda seperti biasanya. Secangkir kopi hitam dan koran menjadi teman setiap pagi. Dan bertualang lagi ketika pukul tujuh telah tiba kembali. Dayang-dayang yang cantik jelita mulai menari mengikuti alunan waktu. Lalu ada secangkir telur setengah matang yang di campur sedikit garam dan sedikit merica yang disukai. Setelah itu bertemu kembali dengan kawan-kawan kecil yang tak dapat berbicara. Hari ini mungkin temanya tentang pertarungan yang menentukan di tebing. Di bumbui sedikit adegan percintaan bisa menjadi lebih menarik. Begitulah fajar yang berputar. Yang selalu enggan mengembalikan apa yang telah di pinjamnya. Semuanya hanya sedikit tentang kisah si waktu. Yang kan terus terurai sampai akhir zaman.
"Pintar! tidak menangis", kata Mama
Mama pula yang berkata dirinya pernah memungut kotoran bintang. Katanya bercahaya terang. Adik kecil melihatnya. Bahkan memegangnya. Maka itu, menatap genteng-genteng rumah orang di sepanjang jalan adalah wajib hukumnya. Tapi hanya sebentar saja cahayanya. Selanjutnya Adik kecil dan Mama tidak pernah menemukannya lagi. Bagaimana mungkin bintang buang hajat?.
Langit sudah sedikit terang. Pukul setengah enam menjawab waktu yang telah hadir. Sepiring kecil roti yang di potong kecil-kecil berisi mentega gula, mentega mesis, dan susu di hidangkan. Kulitnya kering, jadinya selalu tersisa. Si Adik kecil makan dengan lahap. Tak menyisakan kulitnya sedikitpun.
Lampu-lampu belum di nyalakan. Masih terasa sedikit gelap. Ada Mama, Kakak, dan Adik di dalamnya. Lampu besar dan panjang di atap yang menjuntai ke bawah hampir tidak pernah di gunakan lagi. Televisi pun masih membisu.
Lalu Kakek berpeci hitam singgah ke rumah dengan bersepeda seperti biasanya. Secangkir kopi hitam dan koran menjadi teman setiap pagi. Dan bertualang lagi ketika pukul tujuh telah tiba kembali. Dayang-dayang yang cantik jelita mulai menari mengikuti alunan waktu. Lalu ada secangkir telur setengah matang yang di campur sedikit garam dan sedikit merica yang disukai. Setelah itu bertemu kembali dengan kawan-kawan kecil yang tak dapat berbicara. Hari ini mungkin temanya tentang pertarungan yang menentukan di tebing. Di bumbui sedikit adegan percintaan bisa menjadi lebih menarik. Begitulah fajar yang berputar. Yang selalu enggan mengembalikan apa yang telah di pinjamnya. Semuanya hanya sedikit tentang kisah si waktu. Yang kan terus terurai sampai akhir zaman.
Saturday, February 24, 2007
Sobari
Kenapa harus Tuan Sobari yang di goda
Sedang ia tak mau di goda
Lihat Tuan Sobari berkelit
Dengan tubuh hanya di balut kolor
Kasihan beliau yang ada di pinggir trotoar
Untunglah dia cepat-cepat menghilang
Dia sedang telanjang
Sedang ia tak mau di goda
Lihat Tuan Sobari berkelit
Dengan tubuh hanya di balut kolor
Kasihan beliau yang ada di pinggir trotoar
Untunglah dia cepat-cepat menghilang
Dia sedang telanjang
Tertidur Lima Detik
Penghapus karet berwarna biru yang biasa kugunakan hari ini entah hilang kemana. Lupa terbawa atau terjatuh di mana. Pilot hitamku melejit cepat torehkan isinya ke atas kertas putih yang bersih. Tinta cina di sebelahnya sengaja kusenggol biar tumpah di atasnya. Tapi Pilot hitamku tak hentinya melukis sekumpulan awan gelap. Lalu membuat cerita tentang sekawanan semut hitam yang tengah berbaris gembira di taman sedang kuinjak-injak sampai mati. Hingga pupus harapan mereka tuk menikmati butir-butir gula yang mereka angkut. Aku dan sepatu baruku yang melenyapkannya. Seperti rayap. Ialah seekor rayap yang merobohkan setangkai bunga yang sedang mekar di bawah cahaya matahari. Bukan seorang manusia. Ialah seekor rayap yang meruntuhkan bangunan-bangunan kokoh di seluruh negeri. Bukan pula seorang manusia. Hanya saja rayap tak pernah melihat. Tentulah ia tak dapat melihat bangunan atau benda mana yang sedang di hancurkannya. Oleh karena itu aku ingin penghapus karet berwarna biruku kembali. Kertas putih yang bersih tadi kini tak bisa lagi di bilang bersih. Aku capai. Mungkin jika waktu kembali muda lagi, aku ingin santai-santai saja.
Subscribe to:
Comments (Atom)