Monday, May 28, 2007

pengkhianat

tiga kameradku mati di tikam belati
dari dalam selimut tidurnya
mereka berdua menggelepar kesakitan
menjerit sejadi-jadinya
lalu terkapar tak bernyawa

tuannya ingkar
suaranya bungkam
berbalik badan
palingkan muka
mencuci tangannya sendiri

pengkhianaaaaaaaaaaaaaat....!!!!
aku berteriak sekuat tenaga

siapa lagi yang harus kau yakini?
siapa lagi yang harus ku yakini?
tak seorang pun
melainkan dirimu sendiri
dan belati di tanganmu

lupakan tuanmu!
lupakan kata mutiaranya!
lupakan sosoknya!
lupakan segala kenanganmu bersamanya!
lupakan semuanya!

mulai saat ini
kau sendiri

Saturday, May 26, 2007

Roman Ilusi

sebutir peluru menembus pangkal lenganmu
kupikir saat itu semua baik-baik saja
karena ratusan lainnya
melesat!
hanya kepadaku seorang

"apakah aku akan mati?" katamu
"engkau akan baik-baik saja" kataku

engkau terluka teramat parah
seperti adegan dalam film laga
namun air matamu nyata
darahmu pun nyata
rambutmu yang kubelai pun nyata

Wednesday, May 9, 2007

Analogi Waktu

Jika seandainya waktu adalah uang
maka tak segan bagiku

'tuk menghamburkannya
atas nama kekayaan

'tuk menukarnya
atas nama sesuap nasi

bahkan tak usah memperdulikannya
atas nama senasib seperjuangan

Karena ada sebuah pepatah mengatakan
'makan gak makan asal kumpul'

Namun seandainya waktu adalah pedang
maka siapa yang bersedia
mati konyol
di hunus
olehnya?

Sunday, May 6, 2007

Tangan Brutus

Dentang lonceng ke dua belas adalah saat kematian sang Pangeran. Di saat tangannya yang kiri mencekik lehernya sendiri. Nyawa sudah di ujung kerongkongan. Namun sang Pangeran masih enggan untuk memuntahkannya agar ia terbebas.
Di cabutnya belati yang ada di pinggangnya. Hendak di potongnya tangannya yang kiri itu. Baru saja belati di angkat ke atas, air mata menggenangi mata Pangeran. Haruskah ia merelakan sebelah tangannya yang kesetanan?. Bukankah itu sama saja melukai dirinya sendiri?. Wajahnya mulai membiru. Bola matanya mulai terselip ke atas. Belati di genggam kuat di tangan kanan siap untuk menebas tangan kiri. Sedang tangan kiri terus mencekik kian keras tanpa ampun leher sang Pangeran. Rentetan memori yang pernah di alami nya mulai bergerak hidup kembali di kepalanya. Ajal kian mendekat.
Tanpa pikir panjang Pangeran segera mengiris jari telunjuk tangan kirinya sebagai peringatan. Ia berteriak sendiri sejadi-jadinya. Namun cengkraman tangan kirinya malah semakin kuat.
Tanpa pikir panjang di irisnya lagi jari tengah tangan kirinya itu. Ia meronta sambil menjerit keras bagai orang kesurupan.
Ia berteriak minta tolong, namun tak ada yang bersedia datang menolongnya. Entah apakah mereka sebenarnya sudah menunggu lama kematian sang Pangeran muda itu?.
Leher Pangeran masih di gelayuti cengkraman ganas tangan kiri nya sendiri. Akhirnya ia pun tak tahan. Di potongnya satu persatu jari di tangan kirinya hingga tak tersisa lagi satu pun. Tak ada jalan lain menurutnya. Bagaimanapun juga ia harus tetap hidup untuk menggerakkan laju kehidupan di dunia ini.
Ia berguling di lantai dengan darah segar tercecer kemana-mana. Meraung-raung bagai singa yang terluka. Air mata yang membasahi pipi sebagai representasi rasa sakit dan penyesalannya yang amat sangat akan keputusannya menebas tanpa sisa seluruh jari di tangan kirinya.
Para pelayan istana yang dari tadi menyaksikan pemandangan itu perlahan bergerak maju. Mereka merasa iba juga pada keadaan yang menimpa Pangeran muda mereka.
Pangeran menjerit ke edanan. Tanpa di duga ia berdiri lalu menebas serampangan ke arah mereka. Akibatnya beberapa pelayan musti rela tergorok batang lehernya.
Pangeran berdiri dengan kaki gemetar menatap ke arah mereka semua dengan sorot mata jijik. Belati di genggaman tangan kanannya berlumur darah. Mayat para pelayan istana yang terkapar. Bau anyir memenuhi balairung istana.
Dari pandangannya terlihat jelas Pangeran tak butuh di kasihani. Baginya mungkin tak ada yang dapat di percaya lagi. Mereka tak ubahnya bagai tangan kirinya yang baru saja melakukan percobaan pembunuhan kepadanya. Sama saja. Karena itu ia harus membunuh mereka semua satu persatu. Baginya, hanya belatinyalah teman kepercayaannya.


Di bawah purnama menenggak tuak bersama
Denting gelas beradu dalam tawa
Menyambut pagi yang tak pernah ada
Sekisah tangan yang mencengkeram nyata
Menjadi realita pengkhianatan terbesar
Setelah yang dilakukan Duan Xiaolou dan Cheng Dieyi
Anjing-anjing yang lapar
Anjing-anjing yang lapar
Menjadi santap antar sesama
Lebih baik hidup
Barang sebentar
Mengisahkan apa arti hidup
Walau sebentar
Anjing-anjing yang lapar
Anjing-anjing yang lapar
Menjadi santapan antar sesama
Lebih baik mati
Dalam sendiri
Dalam lapar
Sebagai martir keteguhan hati
Bukan penjilat
Bukan pengecut
Bukan pula sebagai Vultures yang terhormat

Friday, May 4, 2007

Sajak Omong Kosong

Aku ingin berbicara tentang rakyat kecil
Tapi bagaimana bisa,
Aku tak pernah menjadi rakyat kecil

Aku ingin berbicara tentang kemiskinan
Tapi bagaimana mungkin,
Aku hidup bergelimang harta

Aku ingin berbicara tentang Revolusi
Tapi bagaimana bisa,
Melihat darah saja aku pingsan

Aku ingin berbicara tentang anti kemapanan
Tapi bagaimana mungkin,
Aku menikmati kemewahan ini

Aku ingin berbicara mengenai persamaan hak
Tapi bagaimana mungkin,
Aku masih memandang rendah manusia-manusia di bawahku

Aku ingin merakyat
Tapi bagaimana bisa,
Aku tak tahan pada bau keringat manusia

Aku ingin melakukan perlawanan
Tapi bagaimana mungkin,
Mendengar bunyi petasan saja jantungku hampir copot

Aku ingin berbicara yang lantang
Tapi bagaimana bisa,
Aku bisu sejak dulu

Wednesday, May 2, 2007

Cerita Petang

Remang petang
Belalang terbang
Remang petang
Rumput ilalang

Remang petang
Layang-layang terbang
Remang petang
Awan hilang

Remang petang
azan berkumandang
Remang petang
Bapak pulang

Remang petang
Lampu terang
Remang petang
Tenang datang

Remang petang
Jangkrik riang
Remang petang
Tak ada perang

Remang petang
Baju kutang
Remang petang
Emak senang

Hati...Hati...

Lagi-lagi kau mencoba bermain hati
hati di dada bagimu bagai bola bekel
kau memainkannya tanpa hati-hati
hingga hati senantiasa resah 'kan tingkahmu