aku bersama si tak mau kalah
ternyata hanya seorang manusia kota biasa
manusia kota
yang seperti botol kaca
awas bila pecah
belingnya bisa melukaimu dengan parah
meski tanpa perlu di pecahkan
tetap bisa membunuhmu
Monday, December 31, 2007
Kupu-Kupu Kuning
coba lihat kupu-kupu kuning
yang berterbangan di antara dedaunan lebat
mereka berpasang-pasangan
mungkin sedang pacaran
atau baru kawin
sesekali mereka hinggap pada bunga-bunga kuningnya
sekedar untuk istirahat
atau mereguk madu
lalu kembali mengepakkan sayapnya
dan terbang lagi di temani mentari
ada seekor yang berwarna putih hitam
ia hanya singgah sebentar saja di sana
lalu pergi ke pohon di seberangnya
dan tak kembali lagi
ouw, ada angin besar berhembus
menggoyangkan dedaunan tiba-tiba
cukup mengejutkan mereka yang tengah bercumbu di atas bunga
tapi jangan kuatir
ia hanya mengucapkan salam saja
pada kupu-kupu kuning yang bermain
yang berterbangan di antara dedaunan lebat
mereka berpasang-pasangan
mungkin sedang pacaran
atau baru kawin
sesekali mereka hinggap pada bunga-bunga kuningnya
sekedar untuk istirahat
atau mereguk madu
lalu kembali mengepakkan sayapnya
dan terbang lagi di temani mentari
ada seekor yang berwarna putih hitam
ia hanya singgah sebentar saja di sana
lalu pergi ke pohon di seberangnya
dan tak kembali lagi
ouw, ada angin besar berhembus
menggoyangkan dedaunan tiba-tiba
cukup mengejutkan mereka yang tengah bercumbu di atas bunga
tapi jangan kuatir
ia hanya mengucapkan salam saja
pada kupu-kupu kuning yang bermain
Thursday, December 27, 2007
Sajak Tahun Baru
empat hari lagi tahun berganti
gerak waktu sering kali menampar pipi kita berdua
dengan tak di sadari kini kita semakin dewasa
mungkin dua tiga hari lagi uban di rambut kita akan tumbuh
dan jari-jari tangan kita akan keriput
kita menjadi tua
mengapa kita masih saja berbincang kosong seperti ini?
aku ingin tahu apa yang kau sembunyikan dariku
dan apa yang kusembunyikan darimu
mumpung kita masih bisa bersama
dan masih bisa menertawakan kebodohan demi kebodohan bersama
tak ada yang tahu bila sebentar lagi ini berakhir
kita sudah cukup dewasa untuk memilih jalan masing-masing
tiada selamanya kita bisa berdua seperti kemarin atau tadi
cukup menyenangkan kita mengayunkan langkah bersama
berjalan di bawah rembulan berdua
kita seperti sepasang burung merpati
lain kali kan ku gandeng tanganmu erat
coba kau perhatikan suasana malam ini
lebih sepi dari hari-hari biasanya
itulah kesepian
sosok aneh yang kadangkala di benci
bahkan di rindukan oleh sebagian umat manusia
mereka yang membencinya adalah para perindu hati
dan mereka yang merindukannya adalah para pencari sejati
yang manakah dirimu?
bila saatnya tiba kita melangkah di jalan yang berbeda
masing-masing dari kita akan merasakan kesepian
kesepian kecil yang membungkus dada kiri kita
yang lalu menjadi jentik-jentik penyakit
di mana nantinya akan menghanyutkan kita ke laut kesunyian
nanti kita bisa jatuh sakit
nyeri
satu hal yang akan membuatku mati dalam penderitaan
adalah masih terkuburnya sebuah sajak yang tertinggal di dalam dada
yang masih kusembunyikan untukmu
di saat kita telah menempuh jalan yang berbeda...
aku tak tahu bagaimana denganmu...apakah juga begitu?
tapi saat itu kita sudah tak bisa lagi sering bertemu
mungkin aku sudah jadi kakek dan kau juga sibuk jadi nenek
bahkan mungkin juga kita sudah lupa apa yang pernah kita lakukan dulu
dengan kata lain : terlambat
aku tidak ingin menjadi hantu di tahun baru
atau menjadi hantu penasaran seumur hidup
aku ingin berbicara denganmu tentang sajak yang terpendam
selagi aku masih hidup dalam tingkat kewarasan yang wajar
dan dunia belum memisahkan kita
aku ingin kita berdua menggalinya bersama
dan menemukannya bersama
lalu membacanya dengan keras-keras
agar dunia tahu...tidak!....angkasa raya beserta penduduknya pun tahu
tentang apa yang kutulis tentangmu
bagaimana denganmu?....
apakah kau juga menyimpan selembar sajak untukku?
berapa tahun lagi kan kau bacakan untukku?
saat usia kita 70 tahun kah?
87 tahun kah?
atau mungkin nanti kau bacakan di depan nisanku?
sebagai hadiah kematianku yang terindah?
aku akan tetap menantinya
gerak waktu sering kali menampar pipi kita berdua
dengan tak di sadari kini kita semakin dewasa
mungkin dua tiga hari lagi uban di rambut kita akan tumbuh
dan jari-jari tangan kita akan keriput
kita menjadi tua
mengapa kita masih saja berbincang kosong seperti ini?
aku ingin tahu apa yang kau sembunyikan dariku
dan apa yang kusembunyikan darimu
mumpung kita masih bisa bersama
dan masih bisa menertawakan kebodohan demi kebodohan bersama
tak ada yang tahu bila sebentar lagi ini berakhir
kita sudah cukup dewasa untuk memilih jalan masing-masing
tiada selamanya kita bisa berdua seperti kemarin atau tadi
cukup menyenangkan kita mengayunkan langkah bersama
berjalan di bawah rembulan berdua
kita seperti sepasang burung merpati
lain kali kan ku gandeng tanganmu erat
coba kau perhatikan suasana malam ini
lebih sepi dari hari-hari biasanya
itulah kesepian
sosok aneh yang kadangkala di benci
bahkan di rindukan oleh sebagian umat manusia
mereka yang membencinya adalah para perindu hati
dan mereka yang merindukannya adalah para pencari sejati
yang manakah dirimu?
bila saatnya tiba kita melangkah di jalan yang berbeda
masing-masing dari kita akan merasakan kesepian
kesepian kecil yang membungkus dada kiri kita
yang lalu menjadi jentik-jentik penyakit
di mana nantinya akan menghanyutkan kita ke laut kesunyian
nanti kita bisa jatuh sakit
nyeri
satu hal yang akan membuatku mati dalam penderitaan
adalah masih terkuburnya sebuah sajak yang tertinggal di dalam dada
yang masih kusembunyikan untukmu
di saat kita telah menempuh jalan yang berbeda...
aku tak tahu bagaimana denganmu...apakah juga begitu?
tapi saat itu kita sudah tak bisa lagi sering bertemu
mungkin aku sudah jadi kakek dan kau juga sibuk jadi nenek
bahkan mungkin juga kita sudah lupa apa yang pernah kita lakukan dulu
dengan kata lain : terlambat
aku tidak ingin menjadi hantu di tahun baru
atau menjadi hantu penasaran seumur hidup
aku ingin berbicara denganmu tentang sajak yang terpendam
selagi aku masih hidup dalam tingkat kewarasan yang wajar
dan dunia belum memisahkan kita
aku ingin kita berdua menggalinya bersama
dan menemukannya bersama
lalu membacanya dengan keras-keras
agar dunia tahu...tidak!....angkasa raya beserta penduduknya pun tahu
tentang apa yang kutulis tentangmu
bagaimana denganmu?....
apakah kau juga menyimpan selembar sajak untukku?
berapa tahun lagi kan kau bacakan untukku?
saat usia kita 70 tahun kah?
87 tahun kah?
atau mungkin nanti kau bacakan di depan nisanku?
sebagai hadiah kematianku yang terindah?
aku akan tetap menantinya
Wednesday, December 26, 2007
Dermaga Kecil
senja semakin merah seperti rona mawar
langit sebentar lagi padam di telan awan tebal
di langit segelap ini, bagaimana mungkin bintang terlihat dik?
perahumu yang terombang ambing nampaknya sudah mulai bisa bergerak teratur
mendekati dermaga kecil yang sudah tak asing lagi bagimu
kau tak tahu...
aku tambatkan kapalku di dekat dermaga yang kau tuju itu
hendak menjemput kedatanganmu
senja merah tak lagi tampak di langit
yang ada hanya terang purnama tanpa gemintang
dermaga itu mungkin menjadi tempat persinggahanmu yang abadi nanti
setelah pernah terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni yang besar
engkau boleh kembangkan senyummu tatkala perahu kau tambatkan di dermaga itu
dan berlinangan air mata kebahagiaan sampai puas
tapi aku akan segera pergi dari dekat situ bersama perahuku yang selalu tua
mendayungnya sekuat tenaga hingga kedua lenganku putus
mengkaramkannya di tengah laut yang jaraknya sejuta mil darimu
membaringkan tubuh yang mengigil di atas permukaan air laut yang tak berdasar
hingga kau pergi dari dermaga itu
atau aku yang menghilang selamanya
seperti senja merah yang tak muncul lagi untuk kedua kalinya
langit sebentar lagi padam di telan awan tebal
di langit segelap ini, bagaimana mungkin bintang terlihat dik?
perahumu yang terombang ambing nampaknya sudah mulai bisa bergerak teratur
mendekati dermaga kecil yang sudah tak asing lagi bagimu
kau tak tahu...
aku tambatkan kapalku di dekat dermaga yang kau tuju itu
hendak menjemput kedatanganmu
senja merah tak lagi tampak di langit
yang ada hanya terang purnama tanpa gemintang
dermaga itu mungkin menjadi tempat persinggahanmu yang abadi nanti
setelah pernah terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni yang besar
engkau boleh kembangkan senyummu tatkala perahu kau tambatkan di dermaga itu
dan berlinangan air mata kebahagiaan sampai puas
tapi aku akan segera pergi dari dekat situ bersama perahuku yang selalu tua
mendayungnya sekuat tenaga hingga kedua lenganku putus
mengkaramkannya di tengah laut yang jaraknya sejuta mil darimu
membaringkan tubuh yang mengigil di atas permukaan air laut yang tak berdasar
hingga kau pergi dari dermaga itu
atau aku yang menghilang selamanya
seperti senja merah yang tak muncul lagi untuk kedua kalinya
Tuesday, December 25, 2007
Balada Tidurmu
tringg..tringgg....triingg...
ooo laa..laaa...laaa....
tring..tringg..triingg...
petikan gitar akustikku mengantarmu tidur
tring...tringgg...triinngg...
menemanimu sampai bermimpi indah
tring...tringgg..triingg...
la..la...la...laaa...
tring...tringg...tringgg
kasihan...
tringg..triinngg..trinnnggg...
hari ini lelah sekali ya?
tring..trinnggg..tringgg...
ya sudah tidur saja
tringg...tringgg..tringgg....
besok lagi bicaranya
triing...trinngg...triiinggg....
la...laaa..laaaaa....
tring....triingg....trinnggg....
aku memetik gitar akustikku
tring...tringgg..triinggggg...
menemani kantukmu
tringg...tringgg.....tringggg...
hingga membuatmu tertidur
tring...tringg...trinnggg...
ooh la...laa..laaa....
tringg...tringgg..trinnggg
semoga kau mimpi indah
trinnng...tringg....trriinnggg....
ooo laa..laaa...laaa....
tring..tringg..triingg...
petikan gitar akustikku mengantarmu tidur
tring...tringgg...triinngg...
menemanimu sampai bermimpi indah
tring...tringgg..triingg...
la..la...la...laaa...
tring...tringg...tringgg
kasihan...
tringg..triinngg..trinnnggg...
hari ini lelah sekali ya?
tring..trinnggg..tringgg...
ya sudah tidur saja
tringg...tringgg..tringgg....
besok lagi bicaranya
triing...trinngg...triiinggg....
la...laaa..laaaaa....
tring....triingg....trinnggg....
aku memetik gitar akustikku
tring...tringgg..triinggggg...
menemani kantukmu
tringg...tringgg.....tringggg...
hingga membuatmu tertidur
tring...tringg...trinnggg...
ooh la...laa..laaa....
tringg...tringgg..trinnggg
semoga kau mimpi indah
trinnng...tringg....trriinnggg....
Saturday, December 22, 2007
02:38 AM
langit masih gelap
sinar mentari masih belum terbit
ini baru pukul setengah tiga pagi
masih terlalu sore untuk tidur
bagi mereka para penenggak
cawan asmara
sinar mentari masih belum terbit
ini baru pukul setengah tiga pagi
masih terlalu sore untuk tidur
bagi mereka para penenggak
cawan asmara
Sajak Yang Gosong
sajak yang hangus terbakar tak akan mungkin bisa terbaca
lebih baik di masukkan ke keranjang sampah
atau di hancurkan sekalian tanpa sisa
dengan jari-jarimu yang patah
terima kasih kepada apimu yang telah memberangus sajak-sajakku
kini semuanya menjadi tak berguna
hanya tinggal serpihan-serpihan yang telah gosong
yang akan terbawa angin sampai hancur
tampaknya angin membawa apimu untuk membakar yang lainnya
setelah membuat kebakaran hebat di sini
entah sampai berapa jauh angin akan membawamu
aku ragu dapat melihat nyala terangmu lagi
aku melangkah berlawanan arah dengan pergimu
sambil menghamburkan serpihan-serpihan sajakku yang telah gosong
ke jalanan yang penuh kerikil dan lumpur becek
yang tak pernah mau kau lewati
hutan belantara tempat si gila bersembunyi
yang tengah menghancurkan dirinya dengan sajak-sajak miliknya
mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menyendiri
sampai aku bisa terbangun untuk yang kedua kalinya dari mimpi panjangku
lebih baik di masukkan ke keranjang sampah
atau di hancurkan sekalian tanpa sisa
dengan jari-jarimu yang patah
terima kasih kepada apimu yang telah memberangus sajak-sajakku
kini semuanya menjadi tak berguna
hanya tinggal serpihan-serpihan yang telah gosong
yang akan terbawa angin sampai hancur
tampaknya angin membawa apimu untuk membakar yang lainnya
setelah membuat kebakaran hebat di sini
entah sampai berapa jauh angin akan membawamu
aku ragu dapat melihat nyala terangmu lagi
aku melangkah berlawanan arah dengan pergimu
sambil menghamburkan serpihan-serpihan sajakku yang telah gosong
ke jalanan yang penuh kerikil dan lumpur becek
yang tak pernah mau kau lewati
hutan belantara tempat si gila bersembunyi
yang tengah menghancurkan dirinya dengan sajak-sajak miliknya
mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menyendiri
sampai aku bisa terbangun untuk yang kedua kalinya dari mimpi panjangku
Subscribe to:
Comments (Atom)