Sunday, May 6, 2007

Tangan Brutus

Dentang lonceng ke dua belas adalah saat kematian sang Pangeran. Di saat tangannya yang kiri mencekik lehernya sendiri. Nyawa sudah di ujung kerongkongan. Namun sang Pangeran masih enggan untuk memuntahkannya agar ia terbebas.
Di cabutnya belati yang ada di pinggangnya. Hendak di potongnya tangannya yang kiri itu. Baru saja belati di angkat ke atas, air mata menggenangi mata Pangeran. Haruskah ia merelakan sebelah tangannya yang kesetanan?. Bukankah itu sama saja melukai dirinya sendiri?. Wajahnya mulai membiru. Bola matanya mulai terselip ke atas. Belati di genggam kuat di tangan kanan siap untuk menebas tangan kiri. Sedang tangan kiri terus mencekik kian keras tanpa ampun leher sang Pangeran. Rentetan memori yang pernah di alami nya mulai bergerak hidup kembali di kepalanya. Ajal kian mendekat.
Tanpa pikir panjang Pangeran segera mengiris jari telunjuk tangan kirinya sebagai peringatan. Ia berteriak sendiri sejadi-jadinya. Namun cengkraman tangan kirinya malah semakin kuat.
Tanpa pikir panjang di irisnya lagi jari tengah tangan kirinya itu. Ia meronta sambil menjerit keras bagai orang kesurupan.
Ia berteriak minta tolong, namun tak ada yang bersedia datang menolongnya. Entah apakah mereka sebenarnya sudah menunggu lama kematian sang Pangeran muda itu?.
Leher Pangeran masih di gelayuti cengkraman ganas tangan kiri nya sendiri. Akhirnya ia pun tak tahan. Di potongnya satu persatu jari di tangan kirinya hingga tak tersisa lagi satu pun. Tak ada jalan lain menurutnya. Bagaimanapun juga ia harus tetap hidup untuk menggerakkan laju kehidupan di dunia ini.
Ia berguling di lantai dengan darah segar tercecer kemana-mana. Meraung-raung bagai singa yang terluka. Air mata yang membasahi pipi sebagai representasi rasa sakit dan penyesalannya yang amat sangat akan keputusannya menebas tanpa sisa seluruh jari di tangan kirinya.
Para pelayan istana yang dari tadi menyaksikan pemandangan itu perlahan bergerak maju. Mereka merasa iba juga pada keadaan yang menimpa Pangeran muda mereka.
Pangeran menjerit ke edanan. Tanpa di duga ia berdiri lalu menebas serampangan ke arah mereka. Akibatnya beberapa pelayan musti rela tergorok batang lehernya.
Pangeran berdiri dengan kaki gemetar menatap ke arah mereka semua dengan sorot mata jijik. Belati di genggaman tangan kanannya berlumur darah. Mayat para pelayan istana yang terkapar. Bau anyir memenuhi balairung istana.
Dari pandangannya terlihat jelas Pangeran tak butuh di kasihani. Baginya mungkin tak ada yang dapat di percaya lagi. Mereka tak ubahnya bagai tangan kirinya yang baru saja melakukan percobaan pembunuhan kepadanya. Sama saja. Karena itu ia harus membunuh mereka semua satu persatu. Baginya, hanya belatinyalah teman kepercayaannya.


Di bawah purnama menenggak tuak bersama
Denting gelas beradu dalam tawa
Menyambut pagi yang tak pernah ada
Sekisah tangan yang mencengkeram nyata
Menjadi realita pengkhianatan terbesar
Setelah yang dilakukan Duan Xiaolou dan Cheng Dieyi
Anjing-anjing yang lapar
Anjing-anjing yang lapar
Menjadi santap antar sesama
Lebih baik hidup
Barang sebentar
Mengisahkan apa arti hidup
Walau sebentar
Anjing-anjing yang lapar
Anjing-anjing yang lapar
Menjadi santapan antar sesama
Lebih baik mati
Dalam sendiri
Dalam lapar
Sebagai martir keteguhan hati
Bukan penjilat
Bukan pengecut
Bukan pula sebagai Vultures yang terhormat

No comments: