Saturday, January 13, 2007

Sedepa Di Depan Mata

Jarak antara kita hanya sedepa
namun kau membuatnya seakan menjadi seribu depa
dapat kulihat jelas kedua bola matamu
tengah sembunyi di balik gelak tawa kosong

Berlari lalu sembunyi
terkadang kau mengintip sekilas saat sembunyi
hanya 0.5 detik
tidak...aku yakin kurang dari itu

Kita tengah bermain petak umpet
tapi bukan tubuh kita yang bermain
hanya indera kita saja
yakni mata kita yang sedepa

Yang sedepa itulah yang menjadi permasalahan
tapi malam itu aku tak pernah sembunyi
barang sedetik pun
aku tengah memandangimu

Tak hentinya
aku mengejarmu
hendak menangkapmu
agar gantian engkau yang jaga

Tapi begitu lihainya dirimu mengelak
aku tak dapat menemukanmu
aku hanya menatap bayanganmu saja
kemana kau larikan dirimu yang sebenarnya?

Perlahan aku mengerti
aku menyelinap dalam bayangmu
menjadi dirimu sejenak
aku pun tergelak

Sungguh lucu
kisah seorang manusia
yang sama
yang tak tahu akan dirinya tengah berada di mana

Yang tak melihat dirinya dalam cermin
sebagai kepompong busuk
yang di tinggal kupu-kupu
terbang jauh melayang

Tiada yang menertawai kami
tiada yang menangisi kami
yang ada hanya mereka
yang mencibir kami

Akh...aku lupa
jarak kita masih terpaut sedepa
aku sanggup menjulurkan tanganku
lalu kau menyambutnya

Itu pun kalau hati kita terpaut
bagai rantai
yang kokoh
bukan selembar tisu

Akh...aku pun lupa
hati kita memang tak terpaut
tapi perasaan kita
tak pernah ada sekat

Terkadang aku bisa mengintip
dirimu saat resah
tapi aku sangsi
apakah kau begitu juga?

Berapa depa lagi
yang harus kita lalui
dengan melelahkan
seperti ini?

Memang,
tak pernah ada sepasang singa jantan
dalam satu wilayah
kekuasaan rimba yang liar

Mungkin hanya satu
yang bisa menghapus sedepa ini
yakni kesirnaan
salah seorang dari kita

Karena kupikir
semuanya terlambat
arak kepongahan telah habis
kita minum

Di bawah purnama
yang pucat
dalam pekat malam
yang mencekam

Tiada lagi cerita kepahlawanan
yang dulu kita diskusikan
sembari mabuk
bagai 1807 tahun silam

Sungguh,
aku rindukan masa itu
kita yang bodoh
bercerita tentang zaman

Waktu tak bisa berjalan mundur
hanya bisa maju
dan maju
ia tak kenal belas kasih

Akh... kembalikanlah kami
seperti dulu lagi
saat belum mengenal
apa itu kesempurnaan

No comments: